Selamat Datang di Website Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta!     

Diterbitkan 03 Oct 2018

“Yang kami lakukan hanyalah meneruskan perjuangan berat dan panjang seekor induk penyu sisik yang hampir mati kelelahan karena terjebak pohon tumbang dan sampah saat akan kembali ke laut setelah menitipkan 151 butir telurnya di Pulau Rambut”. 

Sungguh patroli kawasan yang biasa kami lakukan pada tanggal 9 Agustus 2018 itu tidak akan menjadi istimewa bila kami tidak menemukannya. Seekor induk penyu sisik dengan karapas berukuran panjang 83 cm dan lebar 74 cm itu terjebak di bawah batang pohon yang tumbang di tepi pantai Suaka Margasatwa Pulau Rambut. Setelah tiga tahun berlalu, penyu yang dikenal sebagai penjaga kesehatan terumbu karang dengan memakan terumbu karang yang terinfeksi itu akhirnya kembali ke pulau ini.

Pukul sembilan pagi...., seharusnya penyu ini  telah berada di lautan tapi saat itu ia kelelahan, berjuang membebaskan dirinya dari batang pohon yang menindih karapasnya. Kami membantunya, mengangkat batang pohon dan membuka jalannya ke laut. Penyu itu bahkan terlalu telah hingga tak dapat melewati pemecah ombak yang melindungi pulau ini hingga kami kembali harus mengangkat tubuhnya. Dan akhirnya, ia pun berenang ke lautan lepas dengan penuh harap telur yang disembunyikannya di pantai Pulau Rambut menentas dan meneruskan generasinya.

Setelah induk penyu itu kembali ke laut, kami berlomba dengan indera penciuman biawak yang tajam. Kami kalah walaupun tidak telak, 21 butir telur penyu sisik telah menjadi sarapan biawak pagi itu dan kami menyelamatkan 130 butir lainnya. Hanya dengan peralatan seadanya dan pengetahuan yang kami punya, kami berusaha menetaskannya dan melindunginya dari predator.

                                        

                                                                                            

Hari demi hari telur itu hidup di dalam pasir, diselimuti doa induknya dan doa kami semua. Akhirnya setelah 53 hari, telur-telur itu menetas dan tukik-tukik memulai perjuangannya keluar dari timbunan pasir. Pukul 09.22 wib tanggal 30 September 2018, tukik pertama keluar dari sarang buatan yang kami bangun, dan diikuti oleh 99 tukik lainnya.

                                                                 

Terlalu terang, terlalu banyak predator yang mengincar mereka bila mereka berenang ke pantai saat itu juga. Karenanya, kami menahan langkah-langkah kecil mereka hingga senja tiba, saat gelap mulai menyamarkan mata elang dan biawak.  Pukul 17.30 kami melepasnya di pantai tempat kami menemukan induknya.

                                                                  

Berjuanglah penyu-penyu kecil........,

rekamlah magnet bumi tempat kalian menetas..........

Suatu saat, kalian pasti akan kembali ke pulau ini.

 

Berjuanglah di lautan untuk menjadi dewasa, kami akan berjuang di sini, menjaga dan mempertahankan pulau ini dari sampah dan ancaman lainnya, agar ketika kalian kembali, kalian dapat menemukan pulau ini dan meneruskan hidup demi generasi yang akan datang.

 

Kembalilah…..meski pulau ini kini tak seindah yang cerita yang kau dengar dari nenek moyangmu karena begitu banyak sampah yang tak bisa diurai bumi.

Kembalilah….walaupun jalanmu terhalang tembok pemecah ombak dan pulau ini semakin kecil ditelan abrasi.

Kembalilah…. meski jilatan-jilatan kadal raksasa pulau ini menghantui.