Selamat Datang di Website Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta!     

Diterbitkan 10 Jul 2009

mck200xSisa pencernaan dalam tubuh makhluk hidup bukanlah barang menjijikkan yang harus dibuang jauh dari kehidupan. Karena itu adalah satu mata rantai dalam siklus alami yang membuat kehidupan terus berputar, bahkan lebih bernilai. Hal ini sudah lama dibuktikan oleh India dan China—dua negeri terpadat penduduknya di dunia—yang memanfaatkan kotoran manusia dan hewan untuk menghasilkan biogas. Negeri gajah ini tercatat paling awal menggunakan tinja sebagai bahan baku biogas, yaitu 1905.China pun sudah memanfaatkan biogas dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakatnya, seperti untuk memasak, lampu penerangan, pembangkit listrik, dan bahan bakar kendaraan bermotor, terutama bus umum. Sekitar 1978, di China telah ada 150 kota yang mendapat aliran listrik dari biogas dengan kapasitas total 1.600 kilowatt. Bagaimana dengan Indonesia —negeri keempat terpadat penduduknya di dunia? Pemanfaatan biogas dari kotoran manusia agaknya masih belum berkembang karena berkembangnya anggapan energi itu ”kotor” sebab bersumber dari unsur yang kotor pula. Dalam kondisi krisis energi dan sulitnya mendapatkan minyak tanah di rumah tangga miskin, pemanfaatan biogas kini perlu mulai dilirik kembali. Kehadiran Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton yang meninjau bantuan USAID dalam membangun sarana mandi, cuci, dan kakus (MCK) penghasil biogas di Petojo Utara, Jakarta, Kamis (19/2), membuka mata masyarakat perkotaan tentang potensi besar energi terbarukan itu. Proses biogas Jika sampah organik di Jakarta diproses, menurut perkiraan Direktorat Pengembangan Energi Departemen ESDM, dapat menghasilkan bukan hanya biogas, tetapi juga listrik hingga kapasitas 50 megawatt. Cara mengubah sampah biogas itu adalah dengan menampung limbah organik dalam tangki reaktor—seperti tangki septik tetapi kedap udara, disebut digester. Dalam kondisi tanpa oksigen, hanya bakteri anaeroblah yang akan hidup subur dan ”memangsa” zat organik di sekitarnya. Ada tiga kelompok bakteri yang dapat bermukim di situ, yaitu bakteri psikhrofilik, mesofilik, dan thermofilik. Namun, di daerah tropis seperti Indonesia, bakteri yang umumnya tumbuh subur adalah bakteri mesofilik. Proses pelumatan sampah organik, termasuk tinja, oleh bakteri itu memakan waktu 5-60 hari, tergantung kondisinya. Biogas hasil kerja bakteri ini tidak berbau. Kandungan biogas didominasi oleh gas metana yang mencapai 60-70 persen, karbon dioksida 20-25 persen, serta selebihnya hidrogen sulfida dan nitrogen. Pemanfaatan biogas Pemanfaatan biogas sebenarnya telah lama dirintis Departemen ESDM dan BPPT sejak 1979 dan melibatkan berbagai perguruan tinggi. Hingga tahun 1991 telah terpasang sekitar 172 unit digester dengan berbagai kapasitas, 1-10 meter kubik. Unit itu tersebar di 15 provinsi. Lalu sejak 1992 mulai dirintis penggunaan digester tipe komunitas berukuran 20 meter kubik untuk 100 orang. Penerapannya di Rumah Sakit Umum Boyolali dan pesantren di Jombang, Jawa Timur. Setelah itu dikembangkan instalasi untuk industri berkapasitas 40 meter kubik. BPPT bekerja sama dengan Jerman juga telah mengkaji penggunaan sistem reaktor pengolah limbah cair dan padat. Dari 500 sapi dihasilkan 450-500 meter kubik biogas per hari atau 657-735 kWh per hari. Nilai energi biogas ini tergolong lumayan. Satu meter kubik biogas nilainya setara dengan 0,61 liter minyak tanah atau 3,75 kilogram kayu bakar. Daya listrik yang bisa dibangkitkan 4,7 kWh. Pembakarannya sangat sempurna tidak menimbulkan jelat, asap, dan gas pencemar lainnya. Energi dari kotoran manusia ini juga meredam pencemaran bau dan penyebaran penyakit. Sayang, potensi ini belum dioptimalkan. (YUNI IKAWATI) Sumber: cetak.kompas.com , Jumat, 20 Februari 2009 | 00:47 WIB