Selamat Datang di Website Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta!     

Diterbitkan 10 Jul 2009

kompos200xProses pembuatan kompos dari sampah dedaunan (organik) mudah dilakukan. Caranya, sampah dedaunan dimasukkan ke dalam fermentor sampah yang dilengkapi dengan saringan kawat dan rangka besi antikarat. Selama dua minggu bakteri akan mengurai dedaunan sehingga lebih kurang 90 persen air akan terurai lalu turun ke bawah melalui saringan kawat antikarat. Sisanya akan menjadi kompos. Pembuatan kompos ini tidak menimbulkan bau busuk karena bakteri tidak bisa berkembang biak dengan cepat dalam kondisi air sedikit. Air yang turun ke bagian bawah saringan kawat antikarat mengandung bakteri pengurai. Jika dialirkan ke selokan-selokan di permukiman dalam jumlah besar, air tersebut bisa mengurangi bau busuk ke selokan-selokan itu. Bila pembuatan kompos ini dilakukan oleh seluruh penduduk dengan memasukkan sampah dedaunan ke fermentor sampah bersama (FSB), penanganan sampah kering lainnya, seperti kertas, plastik, besi, kayu, tulang, daging, dan botol, bisa dituntaskan oleh pemulung yang diorganisasi di setiap TPS beratap. Setiap FSB memerlukan maksimal satu orang pengawas pada setiap sif sehingga bisa menciptakan lapangan kerja yang besar. Selama ini sampah dibuang di TPA sampah yang merusak lingkungan di sekitar TPA. Dengan metode yang saya usulkan itu, TPA sampah tidak diperlukan lagi. Anggaran untuk menyediakan lahan TPA bisa dialihkan untuk membuat FSB. Anggaran transportasi sampah bisa dialihkan untuk membayar upah para pengawas FSB. Metode penanganan sampah ini bisa mengurangi pengangguran dan kemiskinan yang semakin bertambah akibat dampak krisis global terhadap Indonesia. Semoga ide ini dapat diadopsi Gubernur, Wali Kota, dan Bupati di Jawa Barat. SIMON Y SANJAYA Bandung Sumber: cetak.kompas.com , Rabu, 4 Maret 2009 | 15:05 WIB