Selamat Datang di Website Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta!     

Diterbitkan 01 Dec 2016

Kawasan Suaka Margasatwa Pulau Rambut sebagai habitat dari berbagai jenis satwa liar juga memiliki daya dukung yang harus diperhatikan dan dikelola dengan kegiatan-kegiatan berbasis konservasi.  Keanekaragaman hayati di SM Pulau Rambut sangat bergantung pada kondisi habitat yang ada.  Unsur penting dari habitat adalah ketersediaan air.  Air menjadi unsur yang sangat penting karena merupakan unsur esensial yang menjadi indikator kondisi habitat dan sangat mempengaruhi kondisi satwa yang ada pada habitat tersebut. 

 

Berangkat dari pengalaman tahun 2015 dengan kondisi bulan kering yang sangat panas dan panjang yang mengakibatkan kematian satwa karena kekurangan air, maka perlu dilaksanakan kegiatan pembinaan habitat berupa pembinaan feeding ground yang ada di Suaka Margasatwa Pulau Rambut.

 

Pulau Rambut pertama kali diusulkan sebagai kawasan konservasi disampaikan oleh Direktur Kebun Raya Bogor kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Jakarta. Alasan yang paling penting adalah untuk melindungi berbagai jenis burung air yang banyak terdapat di pulau tersebut. Pada tahun 1937 Pulau Rambut ditetapkan secara resmi sebagai Cagar Alam melalui SK Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 7 Tanggal 3 Mei 1937 dengan luas 20 hektar. Selanjutnya keputusan tersebut dibuat dalam Lembaran Negara (Staadblat) Nomor 245 tahun 1939. Sedangkan pelaksanaannya diatur dalam peraturan (Ordonansi) Perlindungan Alam tahun 1941 yang dimuat dalam Lembaran Negara No. 167 tahun 194.

 

Menurut ketentuan Pemerintah No. 33 Tahun 1970 tentang Perencanaan Hutan maka Cagar Alam Pulau Rambut dan Perairan sekitarnya seluas ± 90 hektar berubah fungsi menjadi Kawasan Suaka Margasatwa, dengan keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 275/Kpts-II/1999 Tanggal 7 Mei 1999 memutuskan untuk merubah status Pulau Rambut dari Cagar Alam menjadi Suaka Margasatwa dengan luas 90 ha yang terdiri atas sekitar 45 ha daratan dan 45 ha perairan.

 

Habitat satwa di Suaka Margasatwa Pulau Rambut merupakan jenis habitat pantai hingga rawa.  Penggunaan habitat oleh satwa sangat tinggi mengingat kepadatan antar species yang tinggi.  Hali ini membuat satwa yang ada di SM Pulau Rambut sangat bergantung pada kondisi habitat yang ada.

 

Pakan yang idealnya disediakan oleh habitat pada bulan-bulan panas (September-Desember) teridentifikasi pada tahun 2015 terjadi kekurangan yang cukup drastis.  Unsur-unsur habitat seperti air, tutupan tajuk, dan keberadaan pakan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air.  Pada site pengamatan di Feeding Ground SM Pulau Rambut, hal yang sangat dibutuhkan adalah ketersediaan air sepanjang hari.  Oleh karena itu perlu dilakukan manipulasi untuk memberi jaminan ketersediaan air bagi satwa.

 

Kebutuhan habitat diidentifikasi dari hasil rekomendasi laporan monitoring habitat yang telah dilaksanakan sebelumnya.  Pada laporan monitoring terakhir diketahui bahwa kebutuhan yang paling mendesak adalah ketersediaan air terutama pada bulan-bulan kering.  Identifikasi dilakukan juga dengan memperhitungkan titik-titik rawan kering pada feeding ground di SM Pulau Rambut.

 

Titik-titik rawan kering yang teridentifikasi dipetakan dengan menggunakan software GIS.  Pemetaan dilakukan dengan tujuan mendapat gambaran kebutuhan bahan dan alat yang akan digunakan.  Titik rawan kering sebagaimana teridentifikasi dapat dilihat pada gambar berikut.

 

 

Bak air minum untuk burung dibuat dengan memperhatikan berbagai macam aspek antara lain :

  1. Aspek Teknis

Dalam membuat rancangan bak air minum untuk burung ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain :

 

Kekuatan

Bak air minum burung dibuat agar dapat memberikan dukungan yang kuat terhadap berat air yang tertampung.  Dengan kapasitas bak air yang terletak di atas tiang kemudian diperhitungkan daya tahan terhadap daya tampung dan gangguan lingkungan lainnya seperti angin, satwa dan manusia.

 

Rancangan dengan menggunakan 4 (empat) tiang dengan bahan logam besi anti karat yang disambungkan dengan baut di titik-titik pertemuannya.  Bahan bak air yang digunakan berbahan plastik dengan bentuk silindris sehingga dapat menampung air dan memberikan hamparan air yang cukup untuk digunakan untuk burung.  Untuk memberikan jaminan kekuatan yang lebih, digunakan kawat besi yang diikat kepada pohon atau tempat lain yang memberikan kekuatan yang baik sehingga kondisi tiang akan lebih stabil

 

Kesesuaian

Keberadaan bak air minum yang memang dibutuhkan oleh satwa sasaran pembinaan habitat  yaitu jenis burung.  Burung memiliki ketergantungan terhadap air.  Air digunakan untuk memenuhi kebutuhan berupa minum, mandi, bahkan ada beberapa jenis burung yang menggunakan air untuk mencari pasangan.

 

Dengan memperhatikan kebutuhan tersebut, maka rancangan tempat minum burung dibuat sedemikian agar dapat sesuai dengan kebutuhan tersebut.  Ukuran yang besar dan letak air yang lebih tinggi dari permukaan tanah membuat rancangan yang dibuat sesuai dengan kebutuhan.

 

Aplikatif

Kondisi lapangan secara teknis juga menjadi hal yang perlu dipertimbangkan dalam membuat rancangan.  Kondisi tanah di SM Pulau Rambut menjadi perhatian yang penting karena tiang-tiang besi akan ditanam ke dalam tanah sebagai titik yang menopang bak air minum. 

 

  1. Aspek Ekologi

Pembinaan yang dilakukan dalam suatu habitat dengan memberikan suatu sarana pemenuhan kebutuhan satwa yang dibuat oleh manusia pengelola perlu memperhatikan aspek ekologis serta dampak ekologis sebagai konsekuensi dilakukannya pembinaan habitat.  Dalam hal ini, pembinaan habitat dilakukan dengan memberikan bantuan kepada jenis satwa tertentu yaitu burung dalam hal pemenuhan kebutuhan terhadap air.

 

Secara ekologis rancangan yang dibuat dapat memberikan bantuan pemenuhan kebutuhan air untuk  jenis burung serta dapat memberikan keamanan satwa dari gangguan predator karena menggunakan tiang yang tinggi.  Predator yang dimaksud adalah jenis biawak yang memang banyak terdapat di SM Pulau Rambut.   Dengan tiang yang tinggi tersebut maka biawak tidak dapat memanjat untuk menggapai burung yang sedang beraktifitas di bak air minum.

 

Sedangkan dampak ekologis yang dihasilkan dinilai sangat minim karena bahan yang digunakan merupakan bahan yang tidak beracun dan tidak berbahaya.

 

  1. Aspek Kebutuhan Habitat

Kebutuhan habitat yang berusaha dipenuhi dengan rancangan ini adalah kebutuhan air untuk jenis satwa burung.  Oleh karena itu menggunakan suatu sarana penampungan air yang dapat menjawab ketersediaan air yang dibutuhkan oleh satwa sasaran.

Selain membuat bak air untuk burung, dilakukan juga perbaikan bak air biawak yang memang lokasi dan jumlahnya sudah ada di SM Pulau Rambut.  Perbaikan yang dilakukan berupa pembersihan dan penambalan pada bagian yang bocor.  Sebagai penyedia air bersih, instalasi pompa air dan jaringan pipa dan selang yang dipasang hingga mencapai bak-bak air yang ada.