Selamat Datang di Website Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta!     

Diterbitkan 11 May 2018

Jakarta, 11 Mei 2018. Balai KSDA Jakarta mengadakan kegiatan sosialisasi Pemanfaatan tsl dengan peserta berasal dari pihak-pihak yang terkait dengan peredaran tsl baik dari pemegang regulator,    pelaksana regulator, maupun pelaku pemanfaatan tsl.

Materi pertama disampaikan oleh Kasubdit Pemanfaatan Jenis Dir. KLH (Nunu Anugrah, S. Hut., M.Si.)

Materi pertama disampaikan oleh Kasubdit Pemanfaatan Jenis Dir. KLH (Nunu Anugrah, S. Hut., M.Si.). Beliau menyampaikan mengenai kebijakanpemanfaatan jenis tsl. Salah satunya mengenai pemanfaatan tsl bahwa ada yang dilindungi dan tidak dilindungi secara yuridis telah ada regulasi. Regulasi pengelolaan spesies TSL mengacu pada UU No 5 tahun 1990.

Tata kelola peredaran TSL yang baik akan menciptakan sistem peredaran yang sehat sehingga kelestarian dari keanekaragaman hayati akan tetap terjaga.

 

Kepala Balai KSDA Jakarta (Ahmad Munawir, S. Hut., M.Si.)

Kepala Balai KSDA Jakarta (Ahmad Munawir, S. Hut., M.Si.) menyampaikan materi mengenai Pengelolaan Pemanfaatan TSL di Wilayah Jakarta. Beliau menyampaikan bahwa lalu lintas peredaran di Jakarta sangat padat dilihat dari banyaknya Pemegang izin pemanfaatan TSL sebesar 261 pemegang izin.

Selain itu, tindak kejahatan ilegal yang terjadi juga cukup tinggi, salah satunya seringnya dijumpai tegahan gaharu. Berdasarkan data UNODC tahun 2016 diketahui salah satu ilegal trading untuk gaharu berasal dari Indonesia. Bahkan, ilegal wildlife telah berkontribusi terhadap kegagalan devisa di negeri ini.

Dr. Amir Hamidy

Pada materi ketiga disampaikan Herpetologist dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Dr. Amir Hamidy). Beliau menyampaikan materi yang berjudul Potret Pemanfaatan dan Peredaran TSL di Jabotabek. Negara memberikan akses kepada masyarakat untuk memanfaatkan TSL sebagai salah satu hak rakyat dalam hak untuk pemanfaatan sumber daya alam. Sejak tahun 1978, Indonesia turut serta meratifikasi sebuah kesepakatan untuk mengontrol perdagangan hidupan liar yang disebut dengan “CITES” (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna).

Ternyata dalam perdagangannya, berdasarkan legitimasi CITES bahwa TSL itu sendiri dibagi menjadi 3 yaitu Appendix I, Appendix II, dan Appendix III. Appendix I artinya bahwa daftar TSL termasuk dalam golongan yang mendekati kepunahan shingga pemanfaatannya spesies diperlakukan sangat ketat. Appendix II artinya daftar TSL pemanfaatannya perlu perlakukan, sedangkan Appendix III artinya bahwa daftar TSL yang pemanfaatannya perlu dipantau. Mana saja TSL yang masuk dalam kategori tersebut bisa buka laman CITES di https://www.cites.org/.

Pemanfaatan TSL di Dejabotabek sendiri sangat banyak yang dimanfaatkan, baik itu jenis reptile, ampbipi, ataupun jenis lainnya. Bahkan, Banyak satwa yang terdapat di negeri ini memiliki harga yang cukup mahal di daerah Eropa seperti Morelia boeleni. Bahkan ular pun seringkali menjadi tegahan yang diperoleh di Bandara Soekarno-Hatta.

 

# Save biodiversitas, tekan laju kepunahan TSL, lestari alamku#