Selamat Datang di Website Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta!     

Diterbitkan 10 Aug 2016

Suaka Margasatwa Muara Angke merupakan salah satu kawasan konservasi yang terletak di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Kawasan konservasi ini merupakan kawasan ekosistem mangrove yang telah mengalami penurunan kualitas dari tahun ke tahun yang antara lain disebabkan oleh pencemaran, spesies eksotik dan invasif serta pembangunan sekitar kawasan yang kontraproduktif dengan konservasi. DKI Jakarta sebagai pusat pemerintahan Indonesia dan sebagai daerah urban dengan jumlah serta kepadatan penduduk tinggi dengan berbagai tingkatan sosial yang berbeda turut mempengaruhi keberadaan kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke. Untuk itu diperlukan upaya pengelolaan dengan perencanaan yang baik di kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke agar keberadaan  dan fungsinya sebagai kawasan konservasi dapat dipertahankan.

Dalam melakukan pengelolaan yang sistematis perlu dilakukan berdasarkan data yang komprehensif.  Data merupakan input awal dalam menentukan titik awal pengelolaan yang akan dilaksanakan.

Terkait hal di atas, maka dilakukan kegiatan Inventarisasi Potensi sebagai salah satu kegiatan dari perencanaan Kawasan Suaka Alam yang merupakan hasil analisis dan proyeksi terhadap kondisi ekologi lingkungan. Hasil inventarisasi potensi ini dapat dijadikan acuan dalam penentuan arah pengelolaan dan pengembangan termasuk sebagai alat pengawasan, pengendalian serta evaluasi dalam rangka pengelolaan kawasan yang lebih baik.

Potensi Flora dan Fauna

Kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke memiliki 4 (empat) tapak berbeda, yaitu dominasi Rhizophora di sebelah Barat kawasan sebanyak 6 (enam) jenis, dominasi rumput dan semak belukar yang merupakan daerah terluas di kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke sebanyak 15 (lima belas) jenis, dominasi peralihan rumput dijumpai dekat tanah merah sebanyak 10 (sepuluh) jenis serta dapat dijumpai asosiasi jenis pidada (Sonneratia caseolaris). Tapak tanah kering (semak belukar) dapat dijumpai di sebelah Barat sepanjang Sungai Angke yang memiliki ciri khas tumbuhan pembeda dengan tapak lainnya seperti ketapang (Terminalia catappa), akasia (Acacia auriculiformis), kelapa (Cocos nucifera), dan lain-lain (Hasil Analisis Vegetasi LPPM-RPSMMA, 2000).

Sementara jenis fauna Mamalia yang ada di kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke hanya dijumpai monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Potensi jenis Aves di kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke yang berdekatan dengan Hutan Lindung sekitar 17 individu jenis yang dilindungi, 10 jenis burung migran, dan 50 jenis burung menetap. Jenis Reptil yang dapat dijumpai adalah kura-kura, biawak (Varanus salvator), ular welang (Bungarus fasciatus), ular daun (Dryopis sp.), dan lain-lain (Hasil Inventarisasi Satwa Liar LPPM-RPSMMA, 2000). Biota perairan di kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke dijumpai jenis ikan sapu-sapu (Hypotamus sp.), gabus (Ophiocephalus striatus), dan lain-lain yang jumlahnya sudah sangat sedikit.

Flora

Ekosistem mangrove SMMA berada pada sempadan Sungai Angke, sehingga ekosistem mangrove ini sangat dipengaruhi oleh air tawar.  Menurut Saenger (2002), berdasarkan sifat fisiografis dan strukturnya, ekosistem mangrove SMMA termasuk hutan mangrove tepi sungai (riverine mangrove forest). Karakteristik utama tipe hutan mangrove ini  adalah biasanya teraliri pasang harian dan sering tergenang  luapan air sungai. Pada musim hujan, ketinggian air meningkat dan salinitas menurun  karena masuknya air tawar dari hulu.

Berdasarkan data hasil inventarisasi, tidak semua spesies mangrove berhabitus pohon di kawasan ini ditemukan. Spesies mangrove sejati yang ditemukan selama inventarisasi adalah S. caseolaris dan R. mucronata, sedangkan spesies asosiasi mangrove terdiri atas Cerbera sp., Thespesia populnea, Terminalia catappa dan Calophyllum inophyllum. Hal ini disebabkan sebagian besar tegakan mangrove di SMMA tumbuh pada perairan yang cukup dalam dan sulit diakses walaupun telah menggunakan kendaraan air. Komunitas semak menghambat pergerakan perahu sehingga sebagian besar tegakan mangrove tidak dapat dijangkau. Inventarisasi dilakukan pada tegakan mangrove yang berbatasan dengan perumahan PIK dan di sekitar pos jaga sehingga banyak spesies tumbuhan terestrial yang ditemukan.

 

Struktur umur spesies mangrove SMMA

 

Fauna (Aves)

Jumlah spesies yang dijumpai selama pengamatan mencapai 33 spesies dari 21 famili. Komposisi tersebut tersaji dalam Gambar berikut.

 

Dari ke 33 species yang ditemukan saat pengamatan terdapat 4 species yang memang khas dan endemik di Suaka Margasatwa Muara Angke yaitu : Raja Udang Meninting (Alcedo meninting), Bubut Jawa (Centropus nigrorufus), Kipasan Belang (Rhipidura javanica), dan Jalak Putih (Sturnus melanopterus). 

Jenis dengan jumlah perjumpaan terbanyak adalah jenis Walet Sapi (Colocalia linchi) dan Punai Gading (Trenon vernans) berturut-turut sebanyak 108 perjumpaan dan 107 perjumpaan.  Walet Sapi merupakan jenis burung aerial yang penyebarannya sangat luas.  Kemampuan jenis ini untuk beradaptasi dengan lingkungan yang marginal menjadikan jenis ini mudah dijumpai dimana saja.  Walet Sapi merupakan burung pemakan serangga.  Aktivitas yang dominan dilakukan adalah melayang untuk berburu serangga yang keluar pada pagi dan sore hari menjelang malam dan sesekali hinggap untuk beristirahat dan kemudian kembali terbang.

Sedangkan Punai Gading bukan merupakan jenis asli dari SM Muara Angke.  Jenis ini hadir di SM Muara Angke karena pernah ada sejarah pelepasan liar oleh oknum.  Kesesuaian habitat dan daya tahan yang tinggi serta daya reproduksi yang tinggi menjadikan jenis ini menjadi jenis yang dominan.  Selayaknya jenis dari famili Columbidae, jenis ini memanfaatkan pucuk-pucuk pohon untuk bersarang dan bercengkrama dengan durasi yang cukup lama.  Jenis ini merupakan pemakan biji.

Jenis yang kemudian jadi perhatian adalah dari famili Nectariniidae.  Jenis dari famili ini yang dijumpai adalah Burung Madu Sriganti (Nectarina jugularis).  Sebagai nektarifor, anggota famili ini banyak memanfaatkan berbagai macam pohon dalam proses pencarian makan. Umumnya jenis-jenis tersebut menyukai daerah-daerah tajuk pohon yang banyak terdapat bunga (Trainor et al., 2000).  Secara ekologis jenis tersebut berperan sebagai polinator (agen penyerbukan), proses tersebut termasuk ke dalam ornitogami (penyerbukan yang dibantu burung).

Jenis burung Raptor tidak dijumpai selama pengamatan berlangsung. Selain burung penetap ditemukan juga jenis yang merupakan migran antara lain Pecuk Ular (Anhinga melanogaster), Mandar Batu (Gallinula chloropus) dan Kokokan Laut (Butorides striatus). 

 

Berdasarkan analisis dengan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener, SM Muara Angke memiliki nilai H’ = 3,06. Nilai tersebut termasuk ke dalam kategori keanekaragaman yang tinggi. Ada 6 faktor yang saling berkaitan yang menentukan naik turunnya keanekaragaman jenis dalam 1 komunitas yaitu: waktu, heteroginitas ruang, persaingan, pemangsaan, kestabilan lingkungan dan produktivitas (Krebs 1978).

Simpulan

Ekosistem mangrove SMMA berada pada sempadan Sungai Angke, sehingga ekosistem mangrove ini sangat dipengaruhi oleh air tawar.  Menurut Saenger (2002), berdasarkan sifat fisiografis dan strukturnya, ekosistem mangrove SMMA termasuk hutan mangrove tepi sungai (riverine mangrove forest). Karakteristik utama tipe hutan mangrove ini  adalah biasanya teraliri pasang harian dan sering tergenang  luapan air sungai. Pada musim hujan, ketinggian air meningkat dan salinitas menurun  karena masuknya air tawar dari hulu.

Berdasarkan analisis dengan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener, SM Muara Angke memiliki nilai H’ = 3,06. Nilai tersebut termasuk ke dalam kategori keanekaragaman yang tinggi.