Selamat Datang di Website Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta!     

Diterbitkan 25 Apr 2011

Kegiatan Kemah Bakti Kader Konservasi 2011

1 Kegiatan kemah bakti kader konservasi dan kelompok pecinta alam  pada tahun 2011 ini diikuti oleh kader konservasi yang tergabung dalam Pramuka Saka Wanabakti DKI Jakarta sebanyak 30 orang. Acara kemah bakti ini  dilaksanakan di Bumi Perkemahan Pulau Untung Jawa selama 2 (dua) hari pada tanggal 22-23 april 2011. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta dalam melaksanakan tugas pokok fungsinya untuk melakukan pembinaan masyarakat disekitar kawasan konservasi  dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat maupaun kepada generasi muda yang tergabung dalam kelompok kader konservasi, pecinta alam dan pramuka Saka Wanabakti, dan juga untuk meningkatkan peranserta masyarakat khusunya generasi muda yang tergabung dalam  Pramuka Saka Wanabakti. Agenda kegiatan kemah bakti ini antara lain : 1. Pembersihan sampah dilokasi Bumi Perkemahan Pulau Untung Jawa 2. Pemberian bantuan alat-alat kebersihan kepada masyarakat, khususnya diberikan kepada 5 mushola dan mesjid setempat 3. Penanaman pohon bakau jenis (Rhizophora Mucronata) di sekitar lokasi Bumi Perkemahan Pulau Untung Jawa

Baca Selengkapnya

Diterbitkan 24 Apr 2011

Kantor SKW-II BKSDA DKI Terbakar!

Kantor Seksi Konservasi Wilayah II, Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta pada Minggu, 24 April 2011 sekitar pukul 11:30 WIB mengalami kebakaran.  Kebakaran telah menyebabkan gedung termasuk barang-barang yang ada di dalamnya hangus tak bersisa. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.  Penyebab kebakaran hingga kini  belum diketahui dan masih dalam penyelidikan kepolisian, saat ini di lokasi sudah dipasang police line. Gedung seluas 300 m2 yang terbakar tersebut merupakan gedung yang biasa digunakan sebagai kantor Seksi Konservasi Wilayah II, berada di Jalan Benda Raya No.1 Kelurahan Tegal Alur, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. Di lokasi tersebut terdapat 3 bangunan, yakni kantor SKW-II, gedung mess karyawan dan gedung klinik satwa PPS Tegal Alur. Di lokasi ini juga terdapat Pusat Penyelamatan Satwa Tegal Alur (PPS-red) sebagai tempat penampungan satwa-satwa dilindungi hasil sitaan, rampasan dan penyerahan masyarakat. Menurut informasi dari Staf PPS Tegal Alur yang sedang bertugas, kebakaran diketahui sekitar pukul 11:00 dimana api sudah melalap sebagian atap gedung.  Mereka berusaha mencoba memadamkan api dengan menyiramkan air, namun api sangat cepat membesar hingga menghanguskan seluruh bangunan. Setelah sekitar 1 jam terbakar, pemadam kebakaran tiba di lokasi dan langsung memadamkan api sehingga beruntung api tidak menyambar 2 gedung yang berada didekatnya. Sementara, satwa-satwa yang berada di PPS Tegal Alur saat ini keadaannya aman dan tidak terkena dampak dari peristiwa kebakaran tersebut. Namun data dan dokumen terkait penanganan satwa seluruhnya hangus terbakar. Untuk sementara, kegiatan perkantoran dan pelayanan akan dilakukan di gedung mess dan klinik satwa. DSC_5318resized

Baca Selengkapnya

Diterbitkan 12 Apr 2011

Angelina Sondakh: Hutan `Mangrove` Benteng Bencana Indonesia

20110404092846angelina-sondakhJakarta (ANTARA News) - Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Angelina Sondakh mengingatkan sangat pentingnya upaya pengelolaan potensi hutan `mangrove` (bakau) sebagai benteng perlindungan terhadap resiko bencana di Indonesia. Ia mengatakan itu kepada ANTARA, di Jakarta, Senin, setelah menerima informasi tentang hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) --yang terungkap pada Rapat Paripurna DPR RI-- atas kinerja pengelolaan hutan `mangrove` di kawasan Selat Malaka. "Kan diungkapkan BPK, masih adanya kelemahan kebijakan dan sistem pengendalian intern serta ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang berlaku," kata Legislator yang juga aktivis lingkungan ini, antara lain ditunjuk sebagai `duta orang utan` sedunia. Akibatnya, demikian Angelina Sondakh masih mengutip temuan BPK, hal tersebut mengakibatkan kegiatan rehabilitasi, pemanfaatan, perlindungan dan konservasi hutan `mangrove` belum efektif. "Baik untuk memulihkan, mempertahankan, maupun meningkatkan fungsi hutan `mangrove` sebagai penyangga ekosistem pantai," ujarnya. Itulan sebabnya, mantan Putri Indonesia ini memberi reaksi cukup serius atas kegiatan rehabilitasi hutan `mangrove` bagi perlindungan terhadap bencana, sebagaimana terungkap (berdasarkan temuan BPK) pada Rapat Paripurna DPR RI pada hari Rabu (5/4) lalu. "Sebagai aktivis lingkungan dan `duta orang utan`, jelas saya agak prihatin dengan hasil pemeriksaan BPK atas kinerja pengelolaan hutan `mangrove` di kawasan Selat Malaka tersebut," tegasnya. Bencana Tsunami Masih adanya kelemahan kebijakan dan sistem pengendalian intern serta ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang berlaku, demikian Angelina Sondakh, harus segera diakhiri. "Karena hal tersebut terbukti mengakibatkan kegiatan rehabilitasi, pemanfaatan, perlindungan dan konservasi hutan `mangrove` belum efektif untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan mangrove sebagai penyangga ekosistem pantai," ujarnya lagi. Hal tersebut sangat disayangkan Angelina Sondakh, karena kesadaran yang kurang bagi pelestarian hutan `mangrove` akan berdampak bagi minimnya pertahanan kita terhadap bencana. Lebih lanjut ia menambahkan, seharusnya kita banyak belajar dari kejadian bencana yang lalu seperti `tsunami` Aceh dan Nias pada 2004 serta bencana tsunami Jepang 2011 baru-baru ini. "Bahwa kerusakan yang besar dan korban yang banyak disebabkan karena semakin terbatasnya keberadaan hutan `mangrove`," katanya. Padahal, menurutnya, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang sebenarnya sangat potensial untuk melestarikan hutan `mangrove`. "Karena itu, saya sangat mengimbau agar perlunya kita memiliki kesadaran tinggi tentang pentingnya rehabilitasi hutan `mangrove` sebagai benteng terhadap terjangan `tsunami` yang sangat mungkin melanda wilayah-wilayah tertentu," ujarnya. Guna kepentingan tersebut, janda `mendiang` Adjie Massaid ini mengharapkan agar Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup mulai sekarang bergiat segera merencanakan dan melaksanakan program bagi rehabilitasi hutan `mangrove` secara optimal. "Ini penting sekali demi terciptanya alam yang bersahabat dengan manusia, sehingga dapat mendukung lestarinya ibu pertiwi," pungkas Angelina Sondakh. (M036/K004) sumber : http://www.antaranews.com

Baca Selengkapnya

Diterbitkan 07 Apr 2011

Indonesia Kandidat Utama Penerima Oscar Lingkungan Hidup

Menteri Kehutanan London (ANTARA News) - Indonesia menjadi kandidat utama penerima Oscar Lingkungan Hidup oleh World Future Council Foundation (WFC) karena adanya kebijaksanaan dari Pemerintah provinsi Nangroe Aceh Darusalam mengeluarkan kebijakan moratorium atau penghentian sementara penebangan hutan. Fungsi Penerangan, Sosial, Budaya, KBRI Berlin, Purno Widodo kepada Antara London, Kamis, selain Indonesia, negara-negara yang dinominasikan menerima penghargaan adalah Bhutan, Brazil, Costa Rica, Ecuador, Finland, Gambia, Guatemala, Kenya, Nepal, Norway, India, Rwanda, Turkey, USA dan Vietnam. Seleksi akan dilakukan hingga menjadi enam negara, untuk dipilih tiga pemenang kebijakan yang terbaik, ujarnya. Dalam keterangan pers-nya, WFC menyampaikan pencalonan Indonesia sebagai penerima "The Future Policy Award 2011" atas berbagai kebijakan ditempuh Pemprov Nanggroe Aceh Darussalam melalui Instruksi Gubernur No.05 / INSTR / 2007. Kebijakan tersebut diambil guna mengembalikan fungsi hutan serta menata kembali strategi pembangunan hutan Aceh untuk mencegah terjadinya kembali musibah seperti banjir, tanah longsor dan gangguan satwa liar yang disebabkan adanya kerusakan hutan, terutama pasca bencana tsunami akhir tahun 2004 yang lalu. Instruksi Gubernur Aceh tersebut tertangkap radar World Future Council Foundation (WFC), lembaga nirlaba bertujuan memberikan masukan kepada politisi dan pengambil kebijakan guna menciptakan kerangka pembangunan berkelanjutan yang mempertimbangkan kepentingan keadilan antar-generasi. Pada tahun 2010, pemenang penghargaan ini adalah Costa Rican Biodiversity Law 1998, Australian Great Barrier Reef Marine Park Act 1975 and Environment Protection and Biodiversity Conservation Act 1999 serta Tuscan Regional Law 2004 on the Protection and Promotion of Heritage of Local Breeds and Plant Varieties. Penghargaan kepada tiga pemenang dari enam negara yang terpilih akan dikukuhkan pada tanggal 21 September mendatang pada Sidang Majelis Umum PBB di New York. Sekretariat UNFF, Sekretariat UN-CBD, WFC dan World Conservation Society akan bertindak selaku tuan rumah pada upacara penyerahan tersebut. Salah satu bukti Dubes RI untuk Republik Federal Jerman, Eddy Pratomo mengatakan KBRI Berlin menyambut baik nominasi terseut dan ini merupakan salah satu bukti kepemimpinan RI dalam upaya perlindungan iklim global, mencegah penggundulan hutan, serta melindungi dan melestarikan keragaman hayati. Dikatakannya hal ini tentunya juga merupakan bukti pengakuan masyarakat internasional terhadap berbagai upaya positif Pemerintah RI dalam memelihara paru-paru dunia. WFC merupakan suatu lembaga nirlaba bertujuan memberikan masukan kepada para politisi dan pengambil kebijakan guna menciptakan kerangka kebijakan pembangunan berkelanjutan yang selalu mempertimbangkan kepentingan keadilan antar-generasi. Berbasis di Hamburg, Jerman, serta berkantor cabang di London, Brussels, Washington DC dan Johannesburg, WFC beranggotakan 50 pakar dari seluruh dunia yang banyak berkiprah dalam menyuarakan kebijakan pembangunan berkelanjutan.(*) sumber : http://www.antaranews.com

Baca Selengkapnya

Diterbitkan 04 Apr 2011

Lagi, Ditemukan Gajah Mati Tak Wajar di Riau

Gajah_SumateraPekanbaru - Baru sepekan yang lalu seekor gajah induk ditemukan tewas tak wajar. Kini kembali seekor gajah betina remaja meregang nyawa secara tidak wajar. Ada dugaan termakan racun. Humas Balai Besar Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau M Zanir, mengungkapkan hal itu saat dihubungi detikcom, Sabtu (2/04/2011). Menurutnya, gajah betina yang usianya diperkirakan 20 tahun ini ditemukan tewas di areal perkebunan PT Dharmali Jaya Lestari (DJL) di Desa Petani, Kecamatan Mandau, Kab Bengkalis, Riau. "Kematian gajah remaja ini jelas tidak wajar. Namun kita belum dapat memastikan penyebab kematiannya. Tapi bila melihat kondisinya bisa jadi bisa jadi karena sakit, namun tidak tertutup kemungkinan gajah ini mati karena termakan racun," kata Zanir. Untuk memastikan penyebab kematian gajah itu, lanjut Zanir, pagi ini tim dokter hewan BBKSDA Riau, tengah menuju lokasi untuk melakukan otopsi. Hasil otopsi nantinya akan dibawa di laboratorium di Bukit Tinggi Sumatera Barat. Mengingat kematian gajah ini benar-benar di lokasi perusahaan perkebunan sawit, kata Zanir, pihaknya akan memintai keterangan pihak perusahaan PT Dharmali. "Dalam hal ini kita bukan bermaksud menuduh pihak perusahaan. Namun kita sebatas untuk memintai keterangan terkait kematian gajah ini di lokasi perkebunan mereka," kata Zanir. Pihaknya mengharapkan, agar masyarakat dapat menjaga kelestarian satwa yabg dilindungi itu. Masyarakat diharapkan untuk tidak membunuh gajah dengan cara apa pun. "Kita sangat menyayangkan atas kematian gajah ini. Masyarakat kita harapkan dalan menangani gajah untuk tidak bertindak sendiri. Sebaiknya selalu berkoordinasi dengan pihak terkait," harap Zanir. Sementara itu, sepekan yang lalu seekor induk gajah juga ditemukan tewas masih di kecamatan yang sama. Menurut Zanir, hasil otopsi sementar, kematian induk gajah itu karena mengalami sakit pada bagian tenggorokannya. "Tapi penyebab tenggorokan itu sakit, sample otopsi masih diteliti lebih dalam di Lab Bukit Tinggi," kata Zanir. Sumber : http://www.detiknews.com

Baca Selengkapnya

Diterbitkan 18 Feb 2011

SPORC, PPNS Kehutanan dan Polisi Tangkap Pemilik Galeri Pedagang Tumbuhan dan Satwa Liar

Operasi gabungan SPORC Brigade Elang, PPNS Kehutanan, dan Polri yang dilakukan pada Rabu, 9 Pebruari 2011 di wilayah DKI Jakarta berhasil mengamankan AKM, pemilik IGF galeri, serta barang bukti tumbuhan dan satwa liar. Berita selengkapnya silakan ikuti link berikut: http://www.dephut.go.id/index.php?q=id/node/7024

Baca Selengkapnya

Diterbitkan 12 Jun 2010

Walikota Bekasi Serahkan Satwa Dilindungi

Walikota Bekasi H. Mochtar Mohamad menyerahkan satwa dilindungi Undang-undang kepada Kementrian Kehutanan dalam kesempatan acara penanaman pohon di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi.

Penyerahan satwa dilakukan secara simbolis berupa satu ekor anak Siamang (Symphalangus syndactylus), diterima oleh Dirjen PHKA Ir.Darori, MM dan Dirjen RLPS Ir. Indriastuti, MM mewakili Menteri Kehutanan.

Sedianya, acara penanaman pagar hijau di TPST Bantar Gebang, Bekasi yang diselenggarakan oleh LSM Akar Hijau Lingkungan Indonesia (AHLI) dan Indo Green Roots (IGR) dihadiri oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, namun beberapa saat sebelum dimulai panitia acara mengabarkan bahwa Menhut dipanggil Mensesneg Hatta Radjasa, sehingga tidak dapat menghadiri acara tersebut.

Dalam acara tersebut hadir beberapa pejabat antara lain dari Kementrian Kehutanan (Kepala Badan Litbang, Staf Ahli Menteri, Kapusbinluh, Kepala BKSDA DKI), wakil Kementrian Lingkungan Hidup, wakil Gubernur Jawa Barat dan para Pejabat lingkup Pemkot Bekasi.

Satwa yang diserahkan semuanya berjumlah 3 ekor, yaitu 1 ekor Siamang (symphalangus syndactylus), 1 ekor Kakatua Besar Jambul Kuning (Cacatua galerta) dan 1 ekor Kasuari Gelambir Ganda (Casuarius casuarius).

Satwa-satwa tersebut dipelihara di halaman rumah dinas yang berada satu komplek dengan Kantor Walikota Bekasi di Jalan Jenderal Sudirman.

Selanjutnya oleh tim BKSDA DKI Jakarta dan  Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tegal Alur, satwa-satwa yang diserahkan dievakuasi ke PPS Tegal Alur untuk dirawat dan direhabilitasi sebelum selanjutnya ditransfer ke pusat rehabilitasi untuk direhabilitasi dan dilepasliarkan (dikembalikan) ke habitat alam.

Baca Selengkapnya

Diterbitkan 13 Sep 2009

Polisi Ungkap Jaringan Perdagangan Kulit Harimau

harimau-sumatera050709-1 Polisi optimistis dalam waktu dekat bisa mengungkap seluruh jaringan kasus pencurian dan perdagangan ilegal kulit harimau Sumatera yang terjadi di Jambi pada 22 Agustus 2009. Kapolda Jambi Brigjen Pol Budi Gunawan di Jambi, Sabtu mengaku optimistis aparatnya polisi bisa mengungkap sindikat dan jaringan perdagangan kulit harimau Sumatera (panthera tigris Sumaterae). Dengan peralatan yang cukup canggih saat ini mudah-mudahan dalam waktu dekat sindikat perdagangan kulit harimau tersebut bisa diungkap dan para pelakunya ditangkap untuk diproses secara hukum. Berdasarkan keterangan dari satu tersangka utama pembunuh harimau betina bernama Shela di Kebun Binatang Taman Rimba Kota Jambi, yakni Samsuddin alias Udin Bolu (27), polisi akan mengungkap pelaku lainnya termasuk sindikat perdagangan kulit harimau tersebut. Untuk sementara polisi sudah melacak pelaku pemesanan kulit harimau di kota Palembang, Sumatra Selatan bekerja sama dengan pihak kepolisian setempat. "Kini kasus tersebut masih terus dikembangkan kepolisian setempat," tegas Budi Gunawan. Aksi yang dilakukan Udin dengan cara membunuh binatang buas tersebut di dalam kandang kebun binatang lalu dikulitinya dan kulit langsung dibawa untuk dijual ke Palembang. Dalam melakukan aksi nekat tersebut, Udin hanya sebagai eksekutor membunuh dan mencuri harimau yang ada di kandang KB Taman Rimba Kota Jambi dengan bayaran Rp18 juta. Sementara itu Kapoltabes Bobyanto r Addoe beberapa waktu lalu mengatakan, dalam kasus ini polisi sudah mengungkap tiga tersangka dan hanya satu tersangka yang ditangkap, sedangkan dua tersangka lainnya sedang diburu. Kedua tersangka yang menjadi buronan polisi dalam kasus pelanggaran hukum perdagangan satwa dilindungi tersebut berinisial I yang merupakan kakak tersangka Udin dan tersangka lainnya M, semuanya warga Palembang, Sumatra Selatan. Terungkapnya kasus ini dimulai dari adanya pembelian ayam potong dan racun di salah satu toko di pasar Jambi, kemudian ditangkap tersangka Samsuddin alias Udin pada Jumat 28 Agustus 2009 di kediamannya di kawasan Sungai Maram, Kota Jambi. Setelah dikembangkan kasusnya, terungkap pula dua tersangka lainnya yakni I dan M yang kini sedang diburu polisi karena memerintahkan tersangka Udin untuk melakukan aksinya. Tersangka melakukan aksinya pada Sabtu, 22 Agustus 2009 pukul 22:00 WIB dengan datang menggunakan sepeda motor dan membawa umpan ayam potong yang sudah diberi rarun. Setelah memberikan makan harimau tersangka Udin kembali datang ke kebun binatang tersebut pada Minggu dinihari pukul 02:00 WIB dan langsung membunuh harimau bernama Shela dengan senjata tajam. Kemudian barang bukti berupa kulit, daging dan tulang harimau tersebut dibawa ke Palembang untuk dijual ke pemesan yang kini sedang diungkap kasusnya. Sumber: ANTARA

Baca Selengkapnya

Diterbitkan 02 Sep 2009

Prof Dr Otto Soemarwoto (1926-2008)

otto_soemarwotoGuru besar emeritus Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, ini seorang tokoh yang pro lingkungan hidup dan pro Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Doktor dalam Plant Physiology, Universitas California, Berkeley, AS, kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 19 Februari 1926, ini meninggal dunia dalam usia 82 tahun Selasa 1 April 2008 di Bandung. Kendati dia sudah berusia 82 tahun kepergian pakar lingkungan hidup, ini masih mengejutkan banyak pihak. Sebab selama ini ia dikenal sebagai sosok yang bugar dan sehat. Menurut Gatot P Soemarwoto (50), putra tertuanya, dia menderita lever kronis yang baru teridentifikasi tiga bulan sebelum meninggal. Otto meninggal di Rumah Sakit Santosa Internasional Bandung setelah dirawat 10 hari. Dia meninggalkan istri, Ny Idjah Natadipradja (82), serta tiga anak, Gatot P Soemarwoto (50), Rini Susetyawati (47), dan Bambang Irawan (44). Jenazah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Sirnaraga, Bandung, Selasa 1 April 2008 pukul 11.30. Sebelum dimakamkan, jenazahnya disemayamkan di rumahnya di Jalan Cimandiri 16 Bandung. Sangat banyak pelayat, baik kerabat maupun koleganya, mulai dari kalangan perguruan tinggi, aktivis lingkungan, hingga pejabat pemerintah. *** Guru besar emeritus Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, ini seorang tokoh yang pro lingkungan hidup dan pro Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Doktor dalam Plant Physiology, Universitas California, Berkeley, AS, kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 19 Februari 1926, ini mengatakan setiap proyek harus bertujuan untuk memperkuat NKRI dan lingkungan hidup. Prof Dr Otto Soemarwoto yang dikenal rendah hati dan sederhana, itu mengatakan selama ini banyak kegiatan pembangunan yang mengabaikannya. Dia memberi contoh, pembangunan transportasi yang lebih banyak diarahkan pada transportasi darat. Padahal Indonesia adalah negara kelautan. Akibatnya, laut belum menjadi penghubung, melainkan pemisah. Menurut suami dari Idjah Natadipraja MA dan ayah dari Gatot Soemarwoto, Rini Soemarwoto dan Bambang Soemarwoto, itu pembangunan juga masih bersifat Jawa-sentris sehingga menimbulkan iri hati dan berujung kehendak untuk memisahkan diri. Menurutnya, sekitar 80 persen pembangunan jalan tol ada di Pulau Jawa. "Ini jelas tidak pro-NKRI,” tegas Otto Soemarwoto. Dari sejak muda dia sudah punya komitmen tentang pelestarian lingkungan hidup dan memperkuat NKRI. Pria yang masih tampak bugar pada usia delapan puluhan tahun ini menjalani hidup apa adanya bagaikan air mengalir. Dia hidup bersahaja. Terlihat antara lain dari kegemarannya mengendaeai sepeda ontel pada masa dia mengajar di Unpad dulu. Dia mengayuh sepeda dari Jalan Cimandiri menuju Kampus Unpad di Jalan Dipati Ukur, Bandung, dan begitu sebaliknya. Kebiasaan naik sepeda itu sudah dilakoninya sejak kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. ”Dulu naik sepeda dari Blunyah hingga Mangkubumen, ya sekitar lima kilometerlah. Tapi dulu kan sambil pacaran, jadi asyik aja ha-ha,” ujar Otto mengenang masa lalunya, sebagaimana ditulis Kompas 26 Februari 2006. Sekarang, ia tidak berani lagi menyusuri jalanan Kota Bandung dengan sepedanya. ”Saya sudah tua. Ngeri melihat lalu lintasnya,” kata Otto. Meski dia masih membiasakan diri berjalan kaki untuk jarak yang tidak terlalu jauh. Menurutnya, ”Itu salah satu upaya untuk mengurangi polusi.” **** Otto Soemarwoto menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar) di Temanggung (1941) dan MULO di Yogyakarta (1944). Anak keenam dari 13 bersaudara pegawai DPU zaman Belanda, yang bercita-cita jadi ahli pertanian, ini sempat nyasar menjadi pelaut, hanya karena senang melihat kaapal. Dia memasuki Sekolah Tinggi Pelayaran di Cilacap (1944). Lalu dia sempat menjadi Mualim Kapal Kayu (1944-1945). Namun cita-citanya menjadi ahli pertanian tak pernah padam. Maka selepas menamatkan SMA di Yogyakarta (1947), dia mendaftar di Fakultas Pertanian Klaten. Namun, tiba-tiba, Belanda datang menyerbu, Otto bergabung ke TRIP (1948-1949). Setelah situasi tenang, tahun 1949 dia kuliah di Fakultas Pertanian UGM, dan lulus dengan cum laude (1954). Kemudian dia pun sempat mengajar di almamaternya. Sebelumnya, 1952, dia sudah menjadi Asisten Botani Fakultas Pertanian UGM. Setelah lulus sebagai insinyur pertanian dari UGM, dia menjabat Asisten Ahli FP UGM (1955). Kemudian setelah meraih gelar Doktor filosofi tanaman (Plant Physiology) dari Universitas California, Berkeley, AS dengan disertasi: "The Relation of High Energy Phospate to Ion Absorption by Excised Barley Roots" (1960), dia pulang ke tanah air, kembali ke UGM. Kala itu, dalam usia relatif muda, 34 tahun, dia diangkat menjadi guru besar (termuda) di UGM. Dia Guru Besar Ilmu Bercocok Tanam, Fakultas Pertanian & Kehutanan UGM (sejak 1960). Saat kuliah di Universitas California, Berkeley, AS, itu pula, Otto berkenalan dengan Idjah Natadipradja yang kemudian dinikahinya tahun 1956 dan dan dikaruniai tiga anak. Perihal nama depannya, Otto, juga muncul ketika dia kuliah di Amerika. Kala itu banyak orang bertanya mengapa dia hanya punya nama keluarga, Soemarwoto. Akhirnya, daripada repot-repot menjelaskan ditambahlah namanya menjadi Otto Soemarwoto. Namun setelah pulang ke Bandung, dengan memakai nama Otto itu, banyak orang menyangka dia orang Sunda. Walaupun bagi Otto, kesukuan adalah cerita lama. Namun dia selalu merasa beruntung beristerikan Idjah Natadipraja, puteri Sunda. Paduan Jawa-Sunda membuat meja makan nyaris selalu lengkap dengan tahu tempe dan sayuran. Setelah beberapa tahun mengajar di UGM, kemudian, Otto dipercaya menjadi Direktur Lembaga Biologi Nasional (LBN) di Bogor (1964-1972). Di sini dia mendalami biologi, terutama biologi molekuler -- bidang yang memerlukan peralatan rumit dan mahal. Saat mendalami biologi ini, dia makin tertarik pada ekologi lingkungan, kendati masih terbatas pada ekologi tumbuh-tumbuhan. Pada saat bersamaan, dia juga menjabat Direktur SEAMEO (South East Asia Ministers of Education Organization) dan Biotrop Bogor (1968-1972). Lalu, sejak 1972, dia aktif sebagai Guru Besar Tata Guna Biologi Unpad. Selain itu, dia juga menjabat Direktur Lembaga Ekologi Unpad (1972). Lembaga ini didirikannya sejak 23 September 1972 dengan berbagai keterbatasannya, baik anggaran maupun tenaga. Semula, hanya dikelola tiga orang, termasuk Idjah Natadipradja, isterinya sendiri. Peralatan pun hanya pensil, kertas, dan mistar. Sampai akhirnya menjadi Lembaga Ekologi yang patut dibanggakan oleh Unpad. Lembaga ini begitu populer dengan banyaknya masalah yang diolah, serta banyak cerita yang dipublikasikan. Lembaga Ekologi Unpad ini kemudia berubah nama menjadi Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL). Otto juga menjabat sebagai kepala. Dia mengabdi di lembaga penelitian itu lebih dari 20 tahun. Lembaga ini bahkan sempat sebagai salah satu pelaksanaan resolusi Konferensi Stockolm. Sejak memimpin lembaga itu, Otto dikenal sebagai seorang ahli yang sering melontarkan pernyataan kontroversial. Sampai-sampai dia diumpamakan sebagai tokoh wayang, Bratasena. Salah satu contoh, ketika kemacetan kawasan Puncak, Bogor, diributkan, dengan santainya ia mengatakan,"Biar saja Puncak macet, tidak usah dibenahi. Lama-lama orang kan bosan ke sana." Selain itu, pada 1993, diluar dugaan banyak temannya, Otto bergabung dengan Business Council for Sustainable Development yang diketuai Bob Hasan, tokoh bisnis yang dikenal kontroversial dan sangat dekat dengan penguasa Orde Baru. Otto sadar bisa dituduh jual diri dengan menerima jabatan direktur eksekutif di lembaga yang melibatkan Bob Hasan itu. Tapi, Otto punya alasan, bukanlah soal ekonomi. Saat itu, ia melihat ada usaha dari pengusaha ke arah yang baik. Masalah lingkungan juga menciptakan bisnis baru, seperti teknologi pengolahan limbah, teknologi pengurangan asap dan bau. Pada 1980, Otto juga berkesempatan sebagai Guru Besar Tamu di Universitas California, Berkeley, AS. Selain itu, Otto juga aktif sebagai anggota Board of Directors, International Institute for Environment and Development, New York dan London (1971-1978). Juga anggota Executive Board, International Union for Conservation of Nature and Natural Resources, Swiss (1972-1976) dan anggota Dewan Redaksi Journal of Environmental Conservation Zurich, Swiss. Anggota Dewan Redaksi Journal of Agriculture and Environment, Den Haag, Nederland (1974) dan anggota Commission on Ecology, Swiss (1980). Ketika pensiun 1 Maret 1999, dengan jabatan terakhir Kepala Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL) Unpad, Otto mewariskan delapan doktor dan sejumlah master. Dia digantikan oleh Dr Nani Djuangsih. Saat pensiun itu, Otto menerima "hadiah mewah" dari rekan-rekannya berupa seminar besar yang dihadiri 400 undangan. Sampai-sampai Menteri Lingkungan Hidup kala itu, Emil Salim berujar: "Saya kagum dengan cara pensiun Pak Otto, yang dilengkapi seminar, diberitakan di koran. Ini bukti bahwa Otto tidak sendirian dalam mengembangkan karir dan ilmunya." Kepakarannya tentang lingkungan tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Tertbukti, 1993, Otto memperoleh gelar doktor honoris causa dari Wageningen Agricultural University, Belanda, karena dinilai berjasa mengembangkan konsep pekarangan dan pemikiran tentang kaitan hutan dan lingkungan. Kala itu, Otto mengingatkan pemilik hutan tropik dan nontropik, bahwa penyusutan hutan tropik hanya 0,5 juta kilometer persegi, sedangkan hutan nontropik sudah menyusut 6,5 juta kilometer persegi. Setelah pensiun, bukannya Otto berhenti dari aktivitas keilmuannya. Ia terus mengajar di Unpad, UI dan UGM, pembicara di berbagai seminar dan diskusi. Bahkan pada perayaan ulang tahun kelahirannya yang ke-80, Otto didaulat menyampaikan ceramah umum yang dihadiri sejumlah tokoh dan sivitas akademika Universitas Padjajaran. Bahkan setelah pensiun , Otto masih saja rajin membaca dan menulis. Karya tulisnya yang terakhir adalah Atur Diri Sendiri: Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup, Yogyakarta, UGM Press (2001). Sebelumnya, dia telah meluncurkan berbagai buku dan karya tulis, di antaranya: The Alang-Alang Problem in Indonesia, paper, the Tenth Pacific Science Congress, Honolulu, AS, 1961; Problems of High School Biology Teaching in Indonesia, Kadarsan Sampoerno & O. Soemarwoto, IUCN Publications, 1968; Ecological Aspects of Development, Elsevier Publishing Co., Amsterdam; Prinsip Sistim Penafsiran Pengaruh Lingkungan, Bandung, Lembaga Ekologi Unpad (1974); Environmental Education and Research in Indonesian Universities, Singapore, Maruzen Asia; Jaring-Jaring Kehidupan Mengenai Amdal, Indrapress, 1981; Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Jakarta, Djambatan (1983); dan Indonesia dalam Kancah Isu Lingkungan Global, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama (1991). Atas berbagai pengabdiannya, Otto telah menerima Bintang Mahaputra Utama (1981), Satyalencana Kelas I (1982), dan Order of the Golden Ark dari Negeri Belanda. HUT Ke-80 Dalam rangka HUT ke-80 Prof. (Em) Otto Soemarwoto, PhD, Unpad mendaulatnya memberikan ceramah umum bertema: “Pembangunan Berkelanjutan : Antara Konsep dan Realita” di Aula Unpad, Bandung , 20 Februari 2006 pkl. 10.00 WIB. Undangan yang hadir, antara lain Ir. Rachmat Witoelar, Menteri Negara Lingkungan Hidup RI beserta Ibu Erna Witoelar (Duta Besar Khusus PBB untuk Millenium Development Goals/Kawasan Aisa Pasifik) dan para Deputi di Lingkungan Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Juga hadir Walikota Bandung dan Walikota Cimahi, para Pimpinan Universitas, Fakultas dan Lembaga Unpad, para Anggota Dewan Penyantun dan para Guru Besar Unpad, serta para Pimpinan dan Peneliti Lembaga Ekologi/PPSDAL Unpad. Rektor Unpad Prof. H. A. Himendra Wargahadibrata, atas nama civitas akademika Unpad, dalam pidato sambutannya mengatakan peringatan HUT yang diisi dengan ceramah umum bagi para tokoh yang berjasa bagi pengembangan ilmu pengetahuan, merupakan apresiasi sebagai penghormatan atas jasa/pengabdian para tokoh yang mudah-mudahan dapat menjadi suri tauladan bagi kita semua. Rektor Unpad mengatakan bahwa Prof. Otto telah dikenal sebagai tokoh nasional dan internasional dibidang lingkungan hidup. Banyak karya dan buah pemikiran Prof. Otto yang telah disumbangkan baik untuk kepentingan Unpad maupun nasional. Di Unpad, khususnya, beliau adalah perintis/pendiri Lembaga Ekologi Unpad yang kini menjadi Pusat penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL) yaitu lembaga pertama di lingkungan pendidikan tinggi di Indonesia yang memfokuskan diri pada isu-isu lingkungan hidup. Prof. Otto merupakan tokoh yang melahirkan Pola Ilmiah Pokok Unpad yaitu Bina Mulia Hukum dan Lingkungan Hidup. Hingga saat ini maupun masa yang akan datang PIP Unpad dipandang masih relevan dalam mendorong kemajuan Unpad dalam mendukung pembangunan nasional. Bidang Ilmu Lingkungan Hidup harus terus dikembangkan dan dilanjutkan oleh para penerusnya. Saya melihat, pendekatan Multidisclipinary Sciences berbasis ilmu Lingkungan Hidup harus dikembangkan, seperti : Komunikasi Lingkungan, Psikologi Lingkungan dan aspek keilmuan lainnya. Salah satu yang menonjol serta telah menjadi isu internasional dalam persoalan lingkungan hidup yang berhubungan dengan bidang ilmu lainnya baik Ilmu Sosial maupun Ilmu-ilmu Eksakta adalah masalah Development of Traditional & Indigenous Knowledge dan Education for Sustainable Development. Permasalahan ini selayaknya terus diperhatikan secara cermat untuk dikaji dan dikembangkan lebih dalam khususnya oleh Lembaga Ekologi/PPSDAL Unpad. Hal tersebut merupakan bagian penting dalam memenuhi tuntutan persoalan yang terus berkembang di tengah-tengah masyarakat. Sebagai insan akademik kita turut memberikan kontribusi bagi bangsa dan masyarakat sesuai spirit dan nilai-nilai Tri Dharma Perguruan tinggi. Ceramah Umum yang disampaikan oleh Prof. Otto, kata Himendra, merupakan bukti bahwa diusianya yang telah lanjut, beliau tetap produktif dan tetap mempunyai semangat tinggi untuk menyumbangkan pemikirannya bagi kita semua. Masalah Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) yang diangkat pada Ceramah Umum ini merupakan tema yang sangat menarik untuk dibahas, mengingat kompleksitas permasalahannya ditengah-tengah krisis bangsa yang multidimensi. Pembangunan berkelanjutan harus dihadapi dan disikapi secara arif dan bijaksana, konsisten, menjunjung tinggi aspek hukum, sosial, dan kemanusiaan, serta melibatkan semua elemen pembangunan secara holistik/integratif. Diharapkan di masa yang akan datang, Unpad terus menunjukkan eksistensinya di bidang lingkungan hidup. Saat ini, saya merasa bangga telah lahir tokoh-tokoh muda Unpad yang konsisten dalam masalah lingkungan hidup seperti : Oekan Abdullah, Eri Megantara, Chay Asdhak, Tb, Benito A. Kurnani, Pampam Parikesit, dan Budi Gunawan. Saya yakin, kelak akan semakin banyak lagi tokoh muda yang akan menjadi penerus jejak Prof. Otto Soemarwoto. Saya juga berharap, dimasa yang akan datang Unpad dapat terus menunjukkan eksistensinya di bidang lingkungan hidup dengan mengembangkan pendekatan Multidisciplinary Sciences, bahkan hal tersebut dapat menjadi pionir lahirnya “Centre of Excellence” di Universitas Padjadjaran. Saya sangat menghormati sosok Prof. Otto, sebagai seorang akademisi yang diharapkan dapat dijadikan suri tauladan khususnya bagi para staf pengajar/peneliti. Sifat-sifat beliau yang tidak pernah takut untuk selalu bekerja keras, belajar sepanjang hayat (Lifelong Learning), Jujur, Konsisten, dan tetap sederhana (Low Profile) selayaknya menjadi tauladan generasi muda Unpad. ?e-ti/tsl Nama: Prof Dr Otto Soemarwoto Lahir: Purwokerto, Jawa Tengah, 19 Februari 1926 Meninggal: Bandung, 1 April 2008 Jabatan Terakhir: Guru Besar Emeritus Unpad, Bandung Agama: Islam Isteri: Idjah Natadipraja MA Anak: - Gatot Soemarwoto - Rini Soemarwoto - Banbang Soemarwoto Pendidikan: - SD, Temanggung (1941) - MULO, Yogyakarta (1944) - Sekolah Tinggi Pelayaran, Cilacap (1944) - SMA, Yogyakarta (1947) - Fakultas Pertanian UGM (1954) - Doktor dalam Plant Physiology, Universitas California, Berkeley, AS, Disertasi: "The Relation of High Energy Phospate to Ion Absorption by Excised Barley Roots," (1960) Karir: - Mualim Kapal Kayu (1944-1945) - TRIP (1948-1949) - Asisten Botani Fakultas Pertanian UGM (1952) - Asisten Ahli FP UGM (1955) - Guru Besar Ilmu Bercocok Tanam, Fakultas Pertanian & Kehutanan UGM (sejak 1960) - Direktur Lembaga Biologi Nasional di Bogor (1964-1972) - Direktur SEAMEO (South East Asia Ministers of Education Organization) dan Biotrop Bogor (1968-1972) - Guru Besar Tata Guna Biologi Unpad (sejak 1972) - Direktur Lembaga Ekologi Unpad (1972) - Guru Besar Tamu di Universitas California, Berkeley, AS (1980) - Guru besar emeritus Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung Kegiatan Lain: - Anggota Board of Directors, International Institute for Environment and -Development, New York dan London (1971-1978) - Anggota Executive Board, International Union for Conservation of Nature and Natural Resources, Swiss (1972-1976) - Anggota Dewan Redaksi Journal of Environmental Conservation Zurich, Swiss - Anggota Dewan Redaksi Journal of Agriculture and Environment, Den Haag, Nederland (1974) - Anggota Commission on Ecology, Swiss (1980) Buku/Karya Tulis: - The Alang-Alang Problem in Indonesia, paper, the Tenth Pacific Science Congress, Honolulu, AS, 1961 - Problems of High School Biology Teaching in Indonesia, Kadarsan Sampoerno & O. Soemarwoto, IUCN Publications, 1968 - Ecological Aspects of Development, Elsevier Publishing Co., Amsterdam - Prinsip Sistim Penafsiran Pengaruh Lingkungan, Bandung, Lembaga Ekologi Unpad (1974) - Environmental Education and Research in Indonesian Universities, Singapore, Maruzen Asia - Jaring-Jaring Kehidupan Mengenai Amdal, Indrapress, 1981 - Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Jakarta, Djambatan (1983) - Indonesia dalam Kancah Isu Lingkungan Global, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama (1991) - Atur Diri Sendiri: Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup, Yogyakarta, UGM Press (2001) Penghargaan: - Bintang Mahaputra Utama (1981) - Satyalencana Kelas I (1982) - Order of the Golden Ark dari Negeri Belanda - Doktor Honoris Causa Wagenin Agricultural University, Belanda (9 Maret 1993) Alamat: Jl. Cimandiri No. 16, Bandung Telp. (022) 4206867- 4206895 Sumber : Ensiklopedi Tokoh Indonesia

Baca Selengkapnya

Diterbitkan 28 Aug 2009

TNKpS Targetkan Lebih 40% Tutupan Karang

pulau pramuka Pulau Pramuka, 10 Agustus 2009 18:58 Puluhan jenis ikan hias berenang-renang di gugusan terumbu karang dekat dermaga Pulau Putri, Kabupaten Kepulauan Seribu. Ikan itu sama sekali tidak takut terhadap orang-orang yang sedang melakukan snorkeling. Bahkan, ikan-ikan yang sering kita jumpai di akuarium itu berani "menciumi" kaki para pe-snorkeling itu. "Ikan-ikan itu tak pernah diganggu manusia. Jadi mereka tidak takut sama sekali pada manusia," kata seorang penjaga pulau yang dijadikan resort dan kawasan wisata bahari itu. Di pantai sekitar Pulau Puteri memang diberlakukan larangan memancing dan menangkap ikan. Banyaknya ikan di Pulau Puteri itu sebanding dengan masih banyaknya terumbu karang di kawasan pantainya, sehingga menjadi tempat yang nyaman untuk berkembang biaknya ikan-ikan. Ilustrasi itu hanya sekadar contoh wilayah yang terumbu karangnya relatif masih baik. Sementara itu, di wilayah lain di Kepulauan Seribu, banyak terumbu karang yang diekspoitasi secara ilegal, sehingga menimbulkan kerusakan. Ini terjadi akibat permintaan pasar terhadap ikan hias dan terumbu karang yang cukup tinggi. Apalagi, didukung kemudahan akses ke Jakarta, yang berjarak tempuh hanya beberapa jam dengan perahu motor. Tindakan ilegal itu dilakukan para pemburu ikan hias dan terumbu karang hidup, yang menjadi kekayaan biota laut di kawasan tersebut. Juga dilakukan oleh penambang pasir dan karang yang kemudian dijual ke perusahaan, untuk reklamasi gosong. Mereka melakukan eksploitasi kekayaan biota laut itu dengan cara-cara merusak. Selain menggunakan bom ikan, mereka juga menggunakan potasium sianida. Akibatnya, kerusakan lingkungan pun tak terhindarkan. Namun hal itu bisa ditekan, setelah pengelola Taman Nasional Kepulauan Seribu melakukan tindakan preventif dan persuasif terhadap para nelayan dan pihak-pihak yang berkentingan, yang sehari-hari menggantungkan diri pada laut sebagai mata pencaharian mereka. Menurut Joko Prihatno, Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS), pihaknya menghimpun para nelayan ke dalam 26 kelompok nelayan yang membudidayakan karang hias, di bawah bimbingan 26 perusahaan sebagai bapak angkat. Dari ke-26 kelompok nelayan tersebut, yang aktif baru 13 kelompok. Mereka sudah mampu mengekspor karang hias ke luar negeri. "Ini bisa menekan pengambilan karang hidup secara ilegal dari alam," kata Joko, di depan para jurnalis, termasuk Gatra.com, saat melakukan kunjungan lapangan ke Pulau Pramuka, pekan lalu. TNKpS, sebagaimana pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Seribu, berkedudukan di Pulau Pramuka. Pulau Pramuka (Dok COREMAP II)Pelestarian sumber daya alam kelautan itu sangat penting dilakukan, mengingat Kepulauan Seribu memiliki keanekaragaman jenis terumbu karang, seperti Acropora, Porites, Turbinaria, juga hutan mangrove yang merupakan habitat berbagai jenis biota laut yang dilindungi, seperti penyu sisik dan kima raksasa. Untuk menjaga standar pelestarian karang di wilayahnya, Joko menerapkan sertifikasi yang dilakukan MAC (Marine Aquarium Council), agar budidaya karang hias itu memenuhi kriteria nasional. Yang diaudit badan itu, meliputi penempatan dan penggunaan keramba, rak, budidaya batuan hidup, penggandaan karang, kolam pembesaran, dan fasilitas budidaya. Dari budidaya karang ini, menurut Joko, setiap kelompok nelayan memperoleh Rp 50.000 hingga Rp 4.000.000 per bulan. Setiap kelompok beranggotakan dua sampai 30 orang. Kini, di TNKpS sudah ada 26 kelompok nelayan, yang aktif separuhnya (13 kelompok). "Ini baru dari segi manfaat ekonomi. Untuk manfaat lingkungan, tutupan karang rata-rata meningkat, dari 33,89% tahun 2003, menjadi 38,92% tahun 2005," kata karyawan Departemen Kehutanan ini, kepada jurnalis peserta Seminar Journalist yang digelar COREMAP II itu. Pada 2010, TNKpS menargetkan tutupan karang lebih dari 40 persen, dan pendapatan masyarakat nelayan meningkat menjadi lebih dari Rp 3.000.000 per bulan/nelayan. "Juga meningkatnya penyerapan tenaga kerja dan jumlah kelompok budidaya karang," tambah Joko. Melihat kerasnya upaya yang dilakukan Joko dan timnya, serta keseriusan kelompok masyarakat yang terlibat di dalamnya, tidak mustahil target itu bisa terwujud. Asalkan, semua pihak, termasuk para pelaku bisnis dan pihak-pihak terkait, mampu menjaga kelestarian lingungan TNKpS. Sumber : Gatra

Baca Selengkapnya