Selamat Datang di Website Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta!     

Diterbitkan 12 Jul 2022

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta memiliki fungsi dan tugas pokok berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.8/Menlhk/Setjen/OTL.0/1/2016 tanggal 29 Januari 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Konservasi Sumber Daya Alam adalah penyelenggaraan konservasi sumber daya alam hayati dan Ekosistem. Balai KSDA Jakarta berada di bawah dan dipertanggungjawabkan kepada Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Balai KSDA Jakarta mempunyai tugas penyelenggaraan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya di cagar alam, suaka margasatwa, taman wisata alam dan taman buru serta koordinasi teknis pengelolaan taman hutan raya dan kawasan ekosistem esensial berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, sedangkan untuk fungsi sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yaitu salah satunya pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa liar beserta habitatnya serta sumberdaya genetik dan pengetahuan tradisional.

Tujuan dari evakuasi satwa liar yang berstatus dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.92/Menlhk/Setjen/KUM.1/8/2018 tentang perubahan kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/KUM.1/5/2018 tentang Tumbuhan dan Satwa Liar yang di Lindungi. Terdapat beberapa hasil evakuasi satwa yang dilakukan pada tahun 2021 yang di sajikan pada Gambar dan Tabel dibawah ini.

Gambar 1 menunjukkan bahwa hasil evakuasi satwa dari bulan Januari sampai Desember yang dilakukan oleh Seksi Konservasi Wilayah I, II dan III. Hasil evakuasi satwa tersebut menunjukkan bahwa pada bulan Januari berjumlah 40 ekor yang di evakuasi dan merupakan jumlah tertinggi, sedangkan evakuasi satwa terrendah terdapat pada bulan Juli yaitu berjumlah 4 ekor satwa.

Gambar 2 Hasil Evakuasi Satwa tertinggi pada Seksi Konservasi Wilayah II yaitu bulan Januari (16 ekor) dibandingkan dengan Seksi Konservasi Wilayah I dan III. Tetapi pada bulan Juli terjadi penurunan Evakuasi Satwa untuk semua Seksi Konservasi Wilayah, sedangkan Evakuasi Satwa terendah ditunjukkan pada Seksi Konservasi Wilayah III yaitu bulan Januari, Maret, April, Mei, Agustus, Oktober, November dan Desember tidak melakukan Evakuasi Satwa. Seksi Konservasi Wilayah mempunyai tugas melaksanakan kegiatan inventarisasi potensi, penataan kawasan, pengelolaan cagar alam, suaka margasatwa, dan taman wisata alam, evaluasi kesesuaian fungsi, pemulihan ekosistem, penutupan kawasan, pengendalian dan pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar, pengembangan dan pemanfaatan jasa lingkungan, penyuluhan, bina cinta alam dan pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan.

Tabel 1. Jumlah Satwa yang di Evakuasi pada Tahun 2021

 

Tabel 1 Hasil Evakuasi Satwa selama setahun terbanyak yaitu Burung Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) (16 ekor) dibanding dengan satwa lain, Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) di Evakuasi pada bulan Januari (6 ekor), Februari (1 ekor), Juni (1 ekor), Agustus (1 ekor), September (6 ekor) dan Desember (1 ekor). Selanjutnya ada 18 ekor satwa yang di evakuasi se ekor dalam setahun seperti yang tercantum pada tabel. Burung kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea) merupakan burung yang berukuran sedang dan mempunyai panjang 35 cm, burung tersebut berasal dari keluarga Cacatua. Burung kakatua ini mempunyai bulu berwarna putih dan kepalanya terdapat jambul berwarna kuning yang dapat ditegakkan. Burung Kakatua memiliki paruh hitam, kulit di sekitar matanya berwarna kebiruan dan kakinya berwarna abu-abu. Burung Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) mempunyai daerah sebaran yaitu Kepulauan Sunda Kecil, Sulawesi, Bali, dan Timor, karena habitad burung Kakatua yaitu di tempat yang masih terdapat hutan-hutan primer dan sekunder. Hilangnya habitat hutan dan terjadi penangkapan liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan banyak terjadi perdagangan dimana-mana, sehingga populasi burung ini ditemukan sangat terbatas, Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) dievaluasikan sebagai kritis di dalam IUCN Red List. Spesies burung ini telah didaftarkan dalam CITES Appendix I.

Penulis : Alkadrin Manui, Staf Balai KSDA