Selamat Datang di Website Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta!     

Diterbitkan 17 Jul 2020

Wamen dan Rombongan mengawali kunjungan kerjanya dengan meninjau Pusat Informasi dan Edukasi Penanggulangan Konflik satwa ini diiinisiasi oleh para relawan yang membatu BKSDA Jakarta Mupun Dinas Pertamanan dan Hutan Kota dalam merespon/mengatasi laporan/aduan masyarakat yang disampaikan melalui aplikasi CRM Pemerintah Daerah Propinsi DKI Jakarta , Pangilan 112 dan Call center BKSDA Jakarta, terkait konflik Macaca fascicularis dan ular.

dilokasi ini di bangun fasilitas kandang penampungan sementara satwa macca dan ular hasil penangana konflik, fasilitas ini dibangun atas kerjasama BKSDA Jakarta , Dinas Pertamaanan dan hutan kota Prov. DKI Jakarta dan Masyarakat RW.06 Perumahaan Bukit Golf Mediterania yang di motori oleh Forum Kader Komunikasi Konservasi Prov. DKI Jakarta . Satwa - satwa yang terlibat konflik untuk sementara dipelihara di tempat ini sebelum ditranslokasi ke tempat yang lainnya atau dilepasliarkan.

Bapak Alue Dohang, menanggapi  positif keberadaan fasilitas ini, kerjasama penaggulangan konflik satwa yang melibatkan  berbagai stakholder perlu dibina dan dikembangkan secara konsisten ujar Wamen sebelum bertolak ke TWA Angke Kapuk. dalam kunjungan di TWA Angke Kapuk Bapak Alue Dohang, Direjen KSDAE, Kepala Balai KSDA Jakarta serta direktur PT. Murindra Karya Lestari selaku pemegang izin Pengusaha Pariwisata Alamdi Kawasan ini,  berdiskusi tentang sejarah, pemanfaatan dan kunjungan wisata di  TWA Angke Kapuk selama masa pandemi Covid-19.

Pada Kesempatan ini, Bapak Wamen dan rombonganjuga menyempatkan diri untuk menyusuri hutan mangrove TWA Angke Kapuk mengunakan speedboat.

berkat kegigihansemua pihak, kawasan yang semula dirambah menjadi tambak dan area terbuka pada era reformasi ini, kini telah menjadi kawasan wisata yang menawarkan hutan mangrove sebagai daya tarik utamanya . meningkatnya tutupan vegetasin, reintroduksi satwa liar secara alami dan banyaknya burung air yang bersarang serta terjadinya regenaresai mangrove secara alami merupakan indikator bahwa ekosistem TWA Angke Kapuk telah pulih, upaya restorasi TWA Angke Kapuk diharapkan dapat meninspirasi dan dapat direplikasi di lokasi lain. TWA Angke Kapuk adalah kisah sukses restorasi mangrove di Indonesia begitulah kesan dan pesan yang disampaikan Bapak Alue Dohang sebelum meninggalkan kawasan seluas 99, 82 Ha ini.

pencapain yang telah diraih di kawasan ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan Tingkat kunjungan lebih dari 220.00 orang pertahun dan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai 1,25 Milyar rupiah per tahun, TWA Angke Kapuk adalah bukti nyata bahwa pendanaan konservasi bukanlah cost tetapi investasi.