MONITORING SPECIES BURUNG BANGAU BLUWOK (Mycteria cinerea)

Burung Bluwok (Mycteria cinerea) adalah salah satu jenis burung air anggota Ciconidae yang termasuk jenis dilindungi oleh pemerintah Indonesia berdasarkan PP no 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Dalam buku Birds to Watch yang dikeluarkan oleh IUCN, burung ini digolongkan terancam punah secara global dan termasuk ke dalam kategori rentan (vulnerable). Selain itu juga tercantum dalam Appendix I dari CITES yang berarti burung ini secara internasional tidak boleh diperdagangkan.

Bluwok merupakan jenis burung yang penyebarannya tidak begitu luas dengan populasi relatif kecil dan perkembangbiakannya lambat. Penyebaran burung bluwok terbatas hanya di wilayah Asia tenggara dengan jumlah populasi terbesar berada di indonesia. Populasi yang pasti di dunia diperkirakan sekitar 6000 ekor (1986) dimana 5900 ekor (97%) berada di Indonesia. Pusat penyebaran burung ini adalah sumatera, jawa, sulawesi, sumbawa dan semenanjung malaysia. Populasi di sumatera berkisar 5000 ekor, jawa berkisar 602 ekor dimana sekita 400 ekor menetap di jawa barat dan populasi minimum 341 individu di pantai selatan jawa tengah dengan 68 individu masih juvenil. Di pulau jawa burung bluwok terdapat di pulau dua, indramayu, segara anakan dan Pulau Rambut. (Sumber : Bird Conservation Officer Burung Indonesia)
Burung bangau bluwok termasuk burung migran, walaupun hanya migrasi lokal. Setelah melakukan perkembangbiakan di Pulau rambut, burung bangau bluwok akan kembali ke pantai utara Jawa. Setelah migrasi, sekitar bulan Agustus tidak ada burung bangau bluwok yang terlihat di Pulau rambut hanya terlihat beberapa ekor untuk singgah sebentar dan kemudian pergi lagi dan akan kembali ke Pulau Rambut sekitar bulan Desember atau Januari.
Sejalan dengan Indikator Kinerja utama yang ditetapkan dalam renstra direktorat jenderal KSDA tahun 2015-2019, yaitu Jumlah ketersediaan data dan informasi sebaran keanekaragaman spesies dan genetik yang valid dan reliable pada tujuh wilayah biogeografi, maka diperlukan pemantauan secara terus menerus terhadap populasi bluwok di SM P Rambut. Walaupun burung bangau Bluwok tidak termasuk kedalam 25 spesies terancam punah yang harus ditingkatkan populasinya sebesar 10% sampai akhir tahun 2019, namun karena keunikan dan kekhasannya, maka Balai KSDA DKI menetapkan bangau bluwok sebagai salah satu jenis penting yang ada di SM Pulau Rambut.
Populasi bangau Bluwok saat ini perlu mendapatkan perhatian dikarenakan oleh tingginya ancaman terhadap kelestarian populasinya. Meningkatnya perburuan mengakibatkan menurunnya populasi burung ini di habitat aslinya. Selain itu semakin berkurangnya tempat mencari makan dan berkembang biak menjadi ancaman lain bagi keberlangsungan hidup burung ini. Oleh sebab itu perlu dilakukan monitoring secara terus menerus untuk mengetahui populasi terkininya. Berdasarkan hal tersebut Balai KSDA DKI jakarta mengadakan kegiatan Monitoring Bluwok di SM Pulau rambut yang menjadi habitat kunci burung tersebut. Kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan data yang valid dan reliable populasi Bluwok pada saat musim berbiak di SM Pulau rambut.

Pada kegiatan monitoring burung bangau bluwok tercatat sebanyak 78 sarang aktif. Jenis pohon yang dijadikan tempat bersarang yaitu Rhizopora mucronata, Ceriops tagal, Manilkara kauki dan Bayur laut. Pada pohon Rhizopora mucronata tercatat sebanyak 32 pohon yang dijadikan sarang dengan jumlah sarang sebanyak 59 sarang, pada pohon Ceriops tagal tercatat sebanyak 14 pohon yang dijadikan sarang dengan jumlah sarang sebanyak 14 sarang, pada pohon Manilkara kauki tercatat 1 pohon yang dijadikan sarang dengan jumlah sarang sebanyak 4 sarang dan pohon Bayur laut sebanyak 1 pohon dengan yang dijadikan sarang yang terdapat 1 sarang.
Hasil pendugaan populasi pada saat kegiatan berlangsung (Mei 2016), mengalami peningkatan dibandingkan dengan laporan hasil monitoring terakhir pada Juni 2015. Diketahui dari laporan monitoring tahun 2015 tercatat sebanyak 65 individu bluwok dan pada hasil monitoring Mei 2016 tercatat sebanyak 85 individu bluwok. Persentase peningkatan dari tahun 2015 sampai Mei 2016 adalah sekitar 30,8%. Faktor yang mempengaruhi peningkatan populasi tersebut yaitu, dilakukannya pembinaan habitat seperti pembersihan gulma dan pembersihan sampah di kawasan SM Pulau Rambut . Selain itu dari tahun 2015 sampai Mei 2016 telah dilakukan pemantauan populasi bluwok secara rutin sehingga pertumbuhan populasi bluwok dapat terjaga. Selain pembinaan habitat peningkatan jumlah populasi bluwok di SM Pulau Rambut dikarenakan musim hujan yang lebih panjang pada tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu.