PELEPAS LIARAN 4 EKOR JALAK PUTIH DAN 16 EKOR JENIS BURUNG LAINYA DI TAMAN WISATA ALAM ANGKE KAPUK
Selain untuk mempublikasikan upaya KLHK dan para mitra dalam mengembalikan satwa liar ke habitat alaminya, kegiatan ini merupakan upaya memberikan edukasi kepada masyarakat, agar turut berperan aktif dalam kegiatan perlindungan satwa di habitat alaminya dan mencegah terjadinya perburuan satwa liar.
Pelepasliaran satwa di TWA Angke Kapuk dihadiri oleh Dirjen KSDAE, Staf Khusus Menteri Bidang Konstitusionalitas Kemasyarakatan dan Kemitraan KLHK, Direktur KKH, Direktur PJLHK, perwakilan Korea Indonesia Forest Center dan Instasi terkait lainya termasuk media, komunitas dan generasi muda sebagai salah satu mesin penggerak "citizen sciencer" demi tercapainya pelesatarian satwa liar endemik Indonesia, sebagai siatu aksi kolektif.
Spesies burung yang dilepas liarkan dalam kegiatan ini terdiri atas 4 ekor jalaka putih (Acridothers melanopterus), 4 ekor pecuk padi (Phalacrocorak sulcirostris), 10 ekor kowak malam (Nycticorax nycticorax) 4 ekor kuntul kerbau (Bubulcus ibis) dan 43 ekor tekukur (Streptopelia chinensis). Burung - burung yang dilepasliarkan ini merupakan hasil pengembangbiakan yang dilakukan oleh Taman Burung Taman Mini Indonesia Indah, Taman Marga Satwa Ragunan dan penagkar Sinaga Wiyoga di Jakarta.
TWA Angke Kapuk merupakan habitat alami keenam spesies burung tersebut, sehingga secara bioekologi burung - burung ini adaptip terhadap kondisi hutan mangrove di kawasan ini. Salah satu spesies burung yang dilepasliarkan yaitu jalak putih merupakan satwa dilindungi yang terakhir ditemukan di TWA Angke kapuk pada tahun 1996, dan saat ini sudah sangat sulit ditemukan di kelompok hutan mangrove Angke -Kapuk. Oleh karena itu, pelepasliaran burung ini merupakan upaya perdana reintroduksi jalak putih di TWA Angke Kapuk, seluruh satwa yang dilepasliarkan telah melalui proses pemeriksaan kesehatan dan dipastikan tidak membawa penyakit yang dapat menular kepada satwa liar lainya.
Pelepasliaran burung di TWA Angke Kapuk ini merupakan salah satu pencapaian KLHK dalam mewujudkan ex-itu link to in -situ. Kontribusiu nyata konservasi ex-situ (diluar habitatnya) terhadap populasi in-situ (dihabitat alamnya) ini diharapkan dapat memperkaya keanekaragaman hayati Ibu Kota Negara dan memotivasi seluruh pengiat konservasi untuk terus bekerjasama untuk mewujudkan "Living In Harmony with Nature.