Selamat Datang di Website Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta!     

Diterbitkan 13 May 2015

Peningkatan perlindungan terhadap habitat alam hewan merupakan komponen penting dalam penyelamatan satwa tersebut. Perlu adanya pengamanan habitat berbasis masyarakat dan penegakan hukum tegas terhadap pembukaan lahan secara illegal, perburuan dan perdagangan satwa liar. Protokol perlindungan habitat alam satwa dapat disepakati antar pihak berkepentingan, pemerintah dan masyarakat.  Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan penyadartahuan kepada masyarakat melalui “Pencanganan Gerakan Nasional Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar”.

Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan dari hutan internasional dan  hari bakti rimbawan yang melibatkan kehadiran Presiden Republik Indonesia sehingga beberapa kali mengalami perubahan jadwal kegiatan.

Dari Rangkaian acara Pencanangan Gerakan Nasional Penyelamatan Tumbuhan dan Satwa Liar tersebut menghasilkan beberapa hal sebagai berikut :

  1. 1.       Penyerahan Buku 51 Taman Nasional dan Lembaga Konservasi

Taman Nasional Tambora merupakan taman nasional yang ke-51 yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 12 April 2015 lalu. Penetapan ini melengkapi 50 taman nasional yang sudah ditetapkan sebelumnya. Taman-taman nasional, yang menghampar 16,4 juta hektare, menampilkan keragaman ekosistem Indonesia, mulai dari pegunungan tinggi, dataran rendah, sabana hingga lahan basah dan perairan. Taman nasional sekaligus menjadi pusat keanekaragaman hayati, dan salah satu kawasan konservasi terbaik untuk menyaksikan

kehidupan liar Indonesia.

 

Selain menjaga keindahan alam dan fenomenanya, kawasan taman nasional juga dimanfaatkan untuk pariwisata alam sebagai destinasi wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara. Dengan mengelola taman nasional sebagai destinasi unggulan, diharapkan Nawacita Presiden Joko Widodo dengan target 1,5 juta wisatawan mancanegara dan 20 juta wisatawan nusantara akan tercapai bahkan terlampaui. Dengan demikian, taman nasional dapat memberikan multiplyer effect dalam peningkatan devisa, penyediaan lapangan kerja dan pengembangan ekonomi wilayah.

 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia dengan bangga mempersembahkan Buku Pariwisata Alam 51 Taman Nasional: Jelajah Keindahan Panorama dan Keunikan Fenomena Alam Indonesia, untuk promosi dan pemasaran pariwisata alam. Buku ini sekaligus menjadi catatan emas tentang upaya-upaya konservasi dalam mempertahankan keindahan panorama alam dan keanekaragaman hayati.

 

 

Buku ini diserahkan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan kepada Presiden Republik Indonesia disaksikan oleh seluruh undangan yang hadir.  Dengan diserahkannya buku ini menandakan bahwa pengelolaan dan Kegiatan Konservasi yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan secara resmi dilaporkan dan diterima dengan baik oleh Presiden. 

 

  1. 2.       Penyerahan Bantuan berupa alat kebersihan dan sepeda

Kehadiran Presiden Republik Indonesia di Pulau Karya, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu diharapakan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.  Oleh karena itu dalam kesempatan ini, Presiden Republik Indonesia berkenan untuk menyerahkan bantuan dalam dunia lingkungan hidup dan pendidikan.  Bantuan yang diserahkan antara lain sepeda, buku, alat tulis, dan tempat sampah pilah.  Bantuan tersebut diserahkan kepada perwakilan 6 Kelurahan dan perwakilan 25 Sekolah (SD-SLTA) di seluruh Kep. Seribu didampingi oleh Bupati Kepulauan Seribu.

 

Diharapkan dengan diberikan bantuan tersebut dapat menjadi motivasi dan dapat mendorong peningkatan kepedulian masyarakat dalam dunia lingkungan dan pendidikan terutama di Wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.

 

  1. 3.       Peresmian Suaka Elang Bondol dan Suaka Penyu

Program Rehabilitasi dan Penyelamatan Elang Bondol (Maskot Jakarta) Jakarta Animal Aid Network, didirikan pada tahun pada tahun 2004  yang terletak di Pulau Kotok Besar Bagian Timur, Kepulauan Seribu, Pusat Rehabilitasi dan Penyelamatan Elang Bondol ini merupakan satu  satunya  di  Indonesia  yang  menangani  penyelamatan  jenis  elang  air  dari  kepunahan,

selain  itu  JAAN  juga  aktif  dalam  menangi  beberapa  kesejahteraan  satwa  di  Kepulauan Seribu,  diantaranya  sterilisasi  kucing,  rehabilitasi  terumbu  karang,  konservasi  penyu  laut, penanganan tulang Paus, dan program kemasyarakatan Program Daur Ulang dan Kampanye Laut Bukan Tempat Sampah.

 

Program  Rehabilitasi  dan  Penyelamatan  Elang  Bondol  ini  JAAN  bekarjasama  dengan Kementerian  Lingkungan  Hidup  dan  Kehutanan  (Taman  Nasional  Kepulauan  Seribu  dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta).

 

Tujuan  dari  Pusat  Sunctuary  Penyelamatan  Elang  Bondol  ini  adalah  agar  Pulau  Kotok menjadi kawasan Konservasi terpadu dan percontohan dalam Penyelamat Elang Bondol dan

Jenis  elang  airnya,  serta  menunjang  ekowisata  (eco  tourism)  yang  berwawasan  edukasi konservasi.

 

Peresmian Suaka elang Bondol ini ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Presiden Republik Indonesia. 

 4.       Pelepasliaran Penyu

200 ekor tukik yang dilepasliarkan merupakan hasil penangkaran yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu.  Pelepasliaran penyu merupakan bentuk dari kegiatan konservasi yang bertujuan untuk membantu meningkatkan keberhasilan hidup dari jenis penyu.  Penyu adalah jenis satwa yang sangat rentan di habitat alaminya karena banyak mengalami perburuan dan perdagangan secara ilegal.  Untuk itu perlu melakukan pelepasliaran penyu secara berkala agar populasi satwa jenis tersebut dapat meningkat populasinya dan memberikan keseimbangan pada ekosistem.

  1. 5.       Penanaman Mangrove

Mangrove merupakan salah satu ekosistem di daerah pasang surut di wilayah pesisir. Mangrove bermanfaat bagi perlindungan pulau dari abrasi, intrusi air laut, dan angin. Kehadiran mangrove sangat dibutuhkan untuk kehidupan biota laut, baik sebagai rumah, tempat berlindung, bermain, kawin, maupun berkembang biak.

 

Penanaman mangrove di Kepulauan Seribu sangat bergantung pada musim. Yang terbaik sebenarnya mangrove berdaun dua (satu pasang) sampai berdaun enam (tiga pasang). Penanaman mangrove yang baik dilakukan saat musim ombak tidak besar. Biasanya bulan Maret, Juni, Juli, September, dan Oktober.

 

Ada beberapa tahapan menanam mangrove. Pertama, memilih persemaian mangrove dan mencari bibit yang sehat berdaun dua sampai enam. Kedua, prakondisi, dengan aklimatisasi salitinas (kadar garam) antara 30 dan 35 ppm selama 7-10 hari. Pada waktu persemaian disiram air tawar sehingga salitinas rendah. Ketiga, penanaman rapat per rumpun berjumlah 550 batang, 50 batang (panjang), dan 11 batang (lebar) dengan kedalaman 20-25 cm. Dalam empat tahun, tinggi mangrove itu 3 meter. Tinggi mangrove maksimal 4-5 meter

 

Penanaman dilakukan dengan tujuan merehabilitasi pesisir dan pantai.  Dengan adanya mangrove, pesisir dapat terjaga dari abrasi air laut, erosi dan sedimentasi.  Pada sisi ekologis, penanaman mangrove merupakan upaya rehabilitasi habitat satwa agar dapat memberikan daya dukung yang cukup untuk satwa berkembang biak.

 

  1. 6.       Transplantasi Koral

Terumbu karang merupakan komunitas unik diantara komunitas laut lainnya dan terbentuk dari aktivitas biologi. Terumbu karang merupakan ekosistem khas perairan tropik, dan merupakan habitat berbagai biota laut untuk tumbuh dan berkembang biak dalam kehidupan yang seimbang. SIfat yang menonjol dari terumbu karang adalah produktifitas dan keanekaragamannya yang tinggi, jumlah spesies yang banyak, serta bentuk morphologi yang sangat bervariasi dan biomassa yang besar.

 

Luas terumbu karang yang terdapat di perairan Indonesia mencapai lebih dari 60.000 km2 yang tersebar di perairan kawasan barat hingga timur Indonesia. Namun, saat ini terumbu karang secara terus menerus mendapat tekanan berat akibat berbagai aktivitas manusia baik di darat maupun di laut. Cara-cara penangkapan yang menggunakan bahan peledak, bahan kimia beracun masih banyak dijumpai di beberapa daerah. Disamping itu pengambilan terumbu karang untuk bahan bangunan terus meningkat, sejalan dengan meningkatnya laju pembangunan. Begitu pula halnya dengan pembangunan industri dan limbah rumah tangga serta pencemaran minyak juga mengancam kelestarian terumbu karang. Disisi lain kesadaran masyarakat masih rendah terhadap masalah pelestarian atau konservasi sumber daya yang mengakibatkan semakin menambah sulitnya pengelolaan sumber daya terumbu karang secara rasional.

 

Kegiatan transplantasi merupakan salah satu upaya konservasi untuk menumbuhkan kembali komunitas terumbu karang yang rusak dengan maksud tujuan ekosistem yang rusak tersebut dapat pulih kembali dengan adanya individu baru.

 

Transplantasi merupakan suatu teknik penanaman dan pertumbuhan koloni karang baru dengan metode fragmentasi, dimana benih karang diambil dari suatu induk koloni tertentu. Transplantasi karang memiliki tujuan untuk mempercepat regenaerasi terumbu karang yang telah mengalami kerusakan atau untuk memperbaiki daerah terumbu karang yang rusak, terutama untuk meningkatkan keragaman dan persen penutupan.

 

Transplantasi karang dapat dilakukan untuk berbagai tujuan yaitu :

(1). Untuk pemulihan kembali terumbu karang yang telah rusak;

(2). Untuk pemanfaatan terumbu karang secara lestari perdagangan karang hias);

(3). Untuk perluasan Terumbu Karang;

(4). Untuk tujuan pariwisata;

(5). Untuk meningkatkan kepedulian masyarakat akan status terumbu karang;

(6). Untuk tujuan perikanan;

(7). Terumbu karang buatan;

(8). Untuk tujuan penelitian.

 

  1. 7.       Pelepasliaran Burung

Pelepasliaran burung dapat diartikan sebagai upaya melepaskan kembali burung ke alam. Kegiatan ini merupakan dampak dari aktivitas yang dilakukan sebelumnya yaitu menangkap burung liar dari alam untuk dimanfaatkan. Pemanfaatan yang dimaksud adalah menjadikan burung sebagai peliharaan di sangkar atau diperdagangkan.

 

Di masyarakat kita, pelepasliaran burung sudah biasa dilakukan oleh sebagian penduduk, khususnya dalam hal ritual atau seremonial. Kegiatan ritual yang sudah tercatat adalah pelepasliaran di sekitar pura oleh umat Hindu atau dilakukan oleh masyarakat etnis Tionghoa saat merayakan imlek.

 

Pada dasarnya, pelepasliaran burung dilandasi niat yang baik dan akan menjadi lengkap bila masyarakat tidak menangkap kembali burung yang dilepas tersebut. Hal lainnya adalah masyarakat pun diharapkan tidak mengganggu terlebih memburu burung yang hidup di alam liar, apalagi menjadikannya komoditas perdagangan.

Burung membantu proses penyerbukan bunga menjadi buah, menyebarkan biji untuk menumbuhkan hutan, juga mengendalikan serangga yang menjadi hama pertanian. Indonesia memiliki sekitar 1.605 jenis burung. Dari jumlah tersebut, ada yang jenis asli (endemik), juga pendatang atau migrasi yang datang pada waktu tertentu. Biasanya akan tinggal sementara untuk mencari makan selama musim dingin di tempat asalnya berlangsung.

Pada Pelepasliaran Burung ini dilepaskan burung dengan rincian sebagai berikut :

No

Jenis

Jumlah

1

Elang Bondol (Haliaetus indus)

4

2

Kutilang (Pycnonotus aurigaster)

Crucukan (Pycnonotus goiavier)

Tekukur (Streptopelia chinensis)

200