Pulang Kampung Burung Paruh bengkok ke Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Pulang Kampung atau biasanya dikenal dengan istilah mudik atau bahasa kerennya Translokasi. Kali ini akan kami ceritakan proses translokasi jenis burung endemik Maluku Utara yang baru saja pulang kampung dari PPS Tegal Alur ke Suaka Paruh Bengkok (SPB) Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata.

Burung Paruh Bengkok tersebut adalah jenis Kakatua Jambul Putih (Cacatua alba) dan Kasturi Ternate (Lorius garrulus) (masing-masing sebanyak 1 ekor) yang berstatus dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/Menlhk/Setjen/KUM.1/8/2018 tentang perubahan kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/KUM.1/5/2018 tentang Tumbuhan dan Satwa Liar yang di Lindungi. Sungguh menyenangkan, ketika kami mendapat tugas langsung dari Kepala Balai KSDA Jakarta untuk mengawal proses translokasi satwa ke SPB yang berkedudukan di Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Untuk memastikan kegiatan ini berjalan lancar, kami melakukan persiapan (Pemeriksaan Kondisi Satwa dan Kandang) di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tegal Alur (Cek Kondisi Satwa dan Kandang), Perjalanan Translokasi Satwa dari PPS Tegal Alur, Jakarta Barat. Lalu, melanjutkan perjalan darat menuju Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

Tepat pukul 2.50 WIB, kami take off bersama pesawat Batik Air dan tiba Bandara Sultan Babullah Ternate pada pukul 08.30 WIT. Sesampainya di Bandara Sultan Babullah Ternate, kami pun dijemput oleh Staaf Balai TNAL. Kedua satwa telah tiba lebih awal bersama pesawat Garuda Air dan telah dilakukan pemeriksaan di Balai Karantina Pertanian Bandara Sultan Babullah Kota Ternate. Selanjutnya kami menuju ke Kantor BKSDA Maluku SKW I Ternate yang berkedudukan di Kelurahan Akehuda Ternate Utara untuk dilalukan Penandatangan Berita Acara Serah Terima Satwa (BAST) dari Balai KSDA Jakarta ke Balai KSDA Maluku (SKW I Ternate) beserta pemeriksaan kondisi satwa jenis burung oleh dokter BKSDA Maluku SKW I Ternate, BKSDA Maluku. Lebih lanjut, SKW I ternate, BKSDA Maluku, melimpahkan kedua satwa tersebut kepada Suaka Paruh Bengkok, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata untuk direhabilitasi lebih lanjut. Setelah pengurusan administrasi selesai, kami pun melanjutkan perjalanan kami dari Ternate menuju SPB di Pulau Halmahera. Kami harus menyebrang pulau menggunakan Speedboat dari Ternate menuju Sofifi, Ibu Kota Provinsi Maluku Utara, dengan waktu tempuh ± 45 menit. Perjalanan lalu dilanjutkan menggunakan kendaraan roda empat dari Sofifi menuju SPB di Desa Koli, Kota Tidore Kepulauan. Waktu perjalanan mencapai ± 1,5 jam di dampingi oleh pegawai Balai TNAL.

Selama perjalanan kami dimanjakan dengan pemandangan indah mulai dari hijaunya hutan mangrove di Desa Ake Tobolo hingga hamparan pasir putih di Pantai Loleo. Setibanya di Suaka Paruh Bengkok (SPB) Resort Tayawi, kedua burung kembali dilakukan pemeriksaan kondisi kesehatan oleh drh. N. Trihapsoro (Dokter Hewan SPB), mulai dari pengukuran morfometrik hingga penyuntikan vitamin dan microchip (identitas) di Klinik dan Laboratorium SPB dan Alhamdulillah kedua burung tersebut dinyatakan sehat lalu dimasukan ke Kandang Karantina untuk 14 hari mendatang. Karena waktu telah menunjukan pukul 16.30 WIT, kami harus bermalam di SPB. Hari kedua, kami melakukan pengecekan kondisi satwa di kandang karantina, setelah pengecekan kami diajak tour singkat ke SPB untuk melihat berbagai satwa dan fasilitas lengkap yang ada didalamnya, diantaranya : Pusat Informasi, Kandang Karantina, kandang ICU, Kandang Rehabilitas, Kandang Dome, Kandang Ekosistem, Kandang Display, jalur trekking, Conopy Trail, Ruang Usaha Masyaruang (Local Business/Kiosk), Gazebo, Kantor, Rumah Tamu (guest house), dan Tempat Ibadah (mushola) yang sepertinya sangat mewakili tujuan dari didirikannya SPB ini yakni untuk kepentingan di SPB, kami pun harus kembali ke Kota Sofifi, dan melanjutkan perjalanan ke Kota ternate. Suatu kebanggaan tersendiri untuk kami, karena diberikan kesempatan untuk berkunjung dan menikmati secara langsung Suaka Paruh Bengkok (SPB) Resort Tayawi, Taman Nasional Aketajawe Lolobata.

Keterlibatan kami dalam proses translokasi ini mengisyaratkan banyak hal, bahwa upaya rehabilitasi burung-burung paruh bengkok ini memakan banyak waktu, tenaga dan biaya yang sepertinya tidak akan pernah setimpal dengan tangan-tangan jail manusia yang telah tega dan sengaja mengambil mereka dari alamnya. Semoga cerita ini bermanfaat untuk kita semua dan kami ucapkan banyak terimakasih kepada BKSDA Jakarta, BKSDA Maluku SKW I ternate dan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata atas bantuan dan kerjasamanya. Semoga kedua jenis burung paruh bengkok dapat segera kembali ke alamnya. Aamiin.
Penulis. Alkadrin Manui, Staf Balai KSDA Jakarta