Selamat Datang di Website Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta!     

Diterbitkan 11 Jul 2022

Tak ada habisnya kita gambarkan Jakarta yang begitu megah dan menarik perhatian mata kita kan...? Ya, inilah Jakarta. Kota yang tak pernah tidur bagi seluruh warganya, kota yang selalu ramai dari mulai matahari terbebit sampai dengan terbenamnya. Kehidupan metropolitan yang terlihat megah dan ramai menjadikan daya tari tersendiri, salain dari pusat bisnis juga sebagai pusat destinasi wisata yang menarik. efek dari pembangunan kota yang sangat pesat tidak dipungkiri berdampak negatif terhadap kelestarian lingkungan. Walaupun demikian banyak upaya untuk meminimalisir dampak tersebut baik dari pemerintah pusat untuk mempertahankan kualitas lingkungan hidup di Provinsi dengan kepadatan penduduk 16.704 jiwa/km² ini adalah dengan menetapkan dan mengelola kawasan konservasi.

Gemerlap kota Jakarta membuat semua orang berfikir kehidupan yang mewah nan megahnya ibu kota. Terbayang bagi saya yang seorang Aparatur Sipir Negara dengan jabatan Penyuluh Kehutanan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta harus mendampingi masyarakat ibu kota, yang pasti tujuannya menjadikannya masyarakat yang sejahtera dan mandiri. Sangat tidak terlintas bagi saya untuk memulaimya dari mananya, meskipun ibukota tak asing bagi saya. Memang Jakarta bukan tempat pertama bagi saya mengabdi yang sebelumnya saya bertugas di Nusa Tenggara Timur dengan kultur masyarakat yang sangat berbeda.

Tidak terlintas dalam pikiran saya, setelah mutasi tugas di tahun 2013 yang akan saya kerjakan adalah hanya membantu tugas administrasi harian saja. Dengan kondisi kawasan konservasi yang dikelola dinilai aman dari konflik kawasan dan tidak terlalu terkendala dalam pengelolaannya. Sebagai informasi Provinsi DKI Jakartra terdapat lima kawasan konservasi di Provinsi DKI Jakarta, yaitu Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS), Cagar Alam Pulau Bokor (CAPB), Suaka Margasatwa Pulau Rambut (SMPR), Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) dan Taman Wisata Alam Angke Kapuk (TWAAK). Seluruh kawasan tersebut dikelola oleh Balai KSDA Jakarta, kecuali TNKpS.

Sebagian besar kawasan konservasi memang berada wilayah utara Jakarta, wilayahnya merupakan perairan dan di dalamnya juga terdapat zona konservasi. Maka tidaklah mengherankan bilamana pengembangan wilayah kabupaten ini lebih ditekankan pada pengembangan budidaya laut dan pariwisata. Dua sektor ini diharapkan menjadi prime-mover pembangunan masyarakat dan wilayah Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu.

Memang berbanding terbalik dengan kondisi di bagian paling ujung utara Jakarta, kita harus menempuh jarak 66 mil atau 120 km dari daratan Jakarta yang jika kita bandingkan hampir sama dengan 2 kali jarak Jakarta – Bogor. Apabila kita tempuh dengan kapal kayu sekitar 9 - 12 jam dan 4 jam dengan kapal speed boat. Listrik yang baru tersedia jika matahari mulai terbenam, sinyal komunikasi yang mengandalkan wifi dari Kementerian Komunikasi dan Informastika yang terpasang di menara mercusuar. Pertanyaan pertama yang terlontar ada masyarakat yang tinggal disana dan yakin ini masuk wilayah Provinsi DKI Jakarta. Pulau yang dengan luas 8,83 Hektar dan jumlah penduduk sekitar 506 jiwa sebagian penduduknya berasal dari suku Bugis dan bermata pencaharian sebagai nelayan, pulau ini dinamakan Pulau Sabira.

Pulau yang bila kita lihat dari peta lebih dekat dengan Provinsi Lampung di bandingkan DKI Jakarta. Pasti banyak orang juga belum mengetahui keberadaan pulau ini, padahal sabira memiliki sejuta potensi sumber daya alam yang indah dan unik dengan kultur budaya yang berbeda pada umumnya di Jakarta. Secara adminitrasi Pulau ini masuk dalam Kelurahan Pulau Harapan, akan tetapi untuk wilayah perairannya tidak termasuk dalam pengelolaan kawasan BTNKpS karena lokasinya yang jauh.

Kondisi tofografinya merupakan lahan datar dengan ketinggian tidak lebih dari 1 mdpl, bagian barat, timur, utara dan selatan berbatasan langsung dengan laut Jawa. Kondisi Pulau Sabira pada awalnya merupakan hutan mangrove yang cukup subur hanya saja karena adanya gelombang maka sedikit demi sedikit hutan mangrove tersebut musnah dan yang tersisa hanya di bagian utara dari pulau sabira. Karena lokasinya yang paling jauh dari daratan Jakarta. Keasrian dan kelestarian alam pulau ini masih terjaga, sehingga memikat hati wisatawan domestik maupun mancanegara untuk sekedar bersnorkeling, memancing dan pengelolaan rumah pelestarian penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Wajar saja pulau ini menjadi salah satu lokasi favorit bagi penyu yang menyukai pasir putih dan permukaan pantai yang landai.

Lalu Siapa Sang Pejaga Utara Jakarta

Sedikit flashback kebelakang, tahun 2014 seorang pemuda Pulau Sabira datang dan bercerita terkait terkondisi Sabira saat itu kepada saya. Kondisi yang terjadi pantainya mulai terkikis oleh adanya abrasi sehingga untuk menyelamatkan pulau dari bahaya abrasi tersebut Suku Dinas Sumber Daya Air Kepulauan Seribu membangun pagar pemecah ombak di bagian selatan, barat, timur yang hampir mengelilingi pulau. Untuk bagian utara dibangun pemecah ombak dikarnakan daerah tersebut merupakan hamparan pasir dan ekosistem hutan mangrove dan sebagai habitat Penyu sisik di Pulau Sabira. Selain ini juga masih banyak masyarakat sekitar yang menjadi predator utama karena belum mengetahui terkait pentingnya menjaga kelestarian alam terutama penyu sisik yang habitatnya di Pulau Sabira.

Penyu merupakan bagian penting dari dua ekosistem yaitu ekosistem pesisir dan ekosistem laut. Jika Penyu punah, baik ekosistem pesisir maupun laut akan menghadapi kerusakan. Sejak lautan menjadi bagian yang penting memasok sumber makanan dan mendukung aktivitas di wilayah pesisir, maka kerusakan tak terhindarkan pada kedua ekosistem ini dan tentunya akan berdampak pada manusia. Penyu yang sudah hidup dan berkembang di lautan selama 150 juta tahun kini melawan ancaman kepunahan karena tuntutan perkembangan zaman. Jika Kita mengubah lautan dan pantai yang mengancam punahnya Penyu, akankah hal tersebut berdampak kembali kepada kita, saat ini dan di masa depan? Dan apabila memilih untuk mengabaikan Penyu, mungkinkah generasi selanjutnya terselamatkan?

Setitik Cahaya Terang di Batas Utara

Tidak mudah memang dalam proses pendampingan yang dilakukan selama 3 (Tiga) Tahun, dengan keterbatasan komunikasi dan perjumpaan langsung dengan kelompok. Teringat selama awal pendampingan saya harus menumpang kapal dari perusahaan migas China National Off Shore Easth Sumatera (CNOOC SES) Ltd atau baru bisa berkomunikasi diatas jam 22.00 WIB karena sinyal baru stabil itupun harus mendekat ke menara mercusuar tidak mengurungkan niat saya tetap bersama mereka. Hal ini karena motivasi kuat mereka yang ingin menjaga lingkungannya tetap lestari, terucap dari mereka “Kalo Bukan Kami Yang Jaga Pulau Ini Siapa Lagi”.

Dengan proses pendampingan yang cukup panjang, akhirnya masyarakat Pulau Sabira yang di wakili oleh Kelompok Karang Taruna RW 03 Pulau Sabira bersama dengan BKSDA Jakarta dan BTNKpS melakukan kerjasama dalam upaya penyelamatan dan pelestarian penyu sisik (Eretmochelys imbricata) secara alami dan semi alami di Pulau Sabira. Adapun upaya dalam melakukan kegiatan yaitu sebagai berikut:

  1. Penyelamatan atau pemindahan, penetasan telur dan pembesaran tukik penyu sisik, yang telah berhasil melepaskan 12.854 tukik ke habitatnya.
  2. Upaya pemulihan keberadaan habitat penyu sisik dengan melakukan penanaman pohon mangrove sebanyak 111.700 pohon.
  3. Program pendidikan lingkungan dan konservasi dengan melibatkan peran masyarakat, anak sekolah dan wisatawan yang berkunjung ke Pulau Sabira.
  4. Pengembangan wisata edukasi
  5. Pemberdayaan Masyarakat

Dengan terjalinnya kerjasama antara BKSDA Jakarta, BTNKpS dengan Kelompok Karang Taruna RW 03 Pulau Sabira dalam kegiatan sebagaimana disebutkan diatas. Hal ini menjadi pintu gerbang masyarakat Pulau Sabira bermitra dengan multistakholder baik itu pemerintah pusat, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu, ataupun CSR (CNOOC SES Ltd, Pertamina Hulu Energi OSES dan Bank Negara Indonesia) dalam upaya penyelamatan dan pelestarian penyu sisik (Eretmochelys imbricata) secara alami dan semi alami di Pulau Sabira. Teman-teman kelompok tetap focus ketujuan utama mereka dalam upaya mejaga pulaunya.

Akhirnya momen itu datang juga, setelah berupaya dalam penyelamatan dan pelestarian penyu sisik (Eretmochelys imbricata) secara alami dan semi alami di Pulau Sabira yang dilakukan dengan ikhlas tanpa pamrih. Pada 19 Desember 2019 akhirnya Kelompok Karang Taruna RW 03 Pulau Sabira yang diwakili oleh ketua kelompoknya (Gunawan) mendapatkan penghargaan KALPATARU Tingkat Provinsi DKI Jakarta dari kategori Penyelamat Lingkungan. Dari sini akhirnya seperti dibukakan pintu gerbang menuju Pulau Sabira dengan dibukanya jalur transportasi reguler Jalur 3 (Kaliadem Muara Angke – Pulau Kelapa – Pulau Sabira). Tidak hanya itu telekomunikasi juga menjadi lancar tidak harus menunggu matahari terbenam sehingga bisa mendapatkan cahaya lampu dan berkomunikasi dengan sanak saudara yang berada di daratan Jakarta.

Sebuah pencapaian tertinggi yang saya alami selama menjadi pejabat fungsional Penyuluh Kehutanan dimulai masa kerja saya semenjak 2008. Ada rasa kepuasan dan lega telah menghantarkan mereka mewujudkan impian dan membuka rezeki sehingga tarap perekonomian mereka juga meningkat dan tak kalah membanggakannya telah menorehkan penghargaan dalam menjaga lingkungan.

 

Penulis:  Sri Mulyani, SE (Penyuluh Kehutanan Muda)